Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jutaan pasang mata terkesima melihat ratusan anggota DPR berjoget ria saat sesi penutupan Sidang Tahunan MPR dan Sidang Gabungan DPR-DPD pada 15 Agustus 2025,” demikian tulis Syamsuddin Haris, Anggota Dewan Pengawas KPK (2019-2024); Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI (2008-2014), dalam sub judul Opininya, “DPR, Riwayatmu Hari Ini” Kompas, Kamis, (28/8/2025).
Realitas yang Sedang Tidak Baik-baik Saja
Kita sama-sama tahu, bahwa hari-hari ini, ratusan bahkan ribuan pendemo di Jakarta, membanjiri jalan-jalan, sambil berorasi, berteriak, mengeritik, dan bahkan mencerca para Wakil Rakyat yang dianggapnya tidak memiliki sensitivitas serta kepekaan nurani, karena telah mempertontonkan sikap ‘berhati batu’ dengan berani menari-nari di atas penderitaan rakyat yang telah memilihnya.
Keadaan dan suasana euforia ini terjadi setelah para anggota DPR menerima penambahan tunjangan perumahan senilai Rp 50 juta per bulan di tengah upaya pemerintah mengurangi belanja dalam rangka efisiensi anggaran akibat ketidakpastian ekonomi global. Padahal, berdasarkan data Kompas (25/8/2025), total gaji dan tunjangan aggota DPR sudah cukup besar, sekitar Rp 230 juta per bulan, demikian tulis Haris.
Manusia Berhati Batu
“Berhati batu,” adalah sebuah ungkapan (idiom), yang bermakna, sikap tanpa sensitivitas, tidak acuh, masa bodoh, dan sikap menutup diri terhadap sesuatu. Maka, euforia sesaat lewat aksi spontan dengan cara berjoget ria itu dianggap sangat melukai hati rakyat yang umumnya masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Aksi turun ke jalan-jalan, termasuk aksi puncak pada 25 Agustus 2025 itu, harus dibaca sebagai suatu ‘peringatan’ terhadap rendahnya sensitivitas DPR atas penderitaan rakyat, demikian Syamsuddin Haris.
Juga seperti yang dilontarkan spontan oleh pengamat politik Rocky Gerung, bahwa anggota DPR itu pada mulanya adalah para pengemis, yang meminta-minta suara dari rakyat. Namun, setelah mereka duduk di kursi empuk sebagai anggota DPR, ternyata mereka telah melupakan rakyat yang telah memilih mereka.
Jika memang demikian yang terjadi, alangkah kejamnya nurani para Wakil Rakyat di negeri ini. Mungkin, rakyat yang cerdas perlu bertanya, “Siapakah sesungguhnya engkau, wahai si pengemis berhati batu?”
Pertanyaan Paling Akhir
Akhirnya, marilah kita bersama Syamsuddin Haris secara serentak mengajukan sebuah pertanyaan retoris, “Lalu apa yang masih bisa diharapkan dari DPR dan para anggotanya?”
Hanya Tuhan yang tahu, apa sesungguhnya, jawabanmu!
Kediri, 29 Agustus 2025

