Sabda Tuhan menyingkapkan bahaya kemunafikan; tampak saleh di hadapan manusia, tapi hati ini jauh dari-Nya. Yesus menegur keras orang-orang Farisi yang hanya mencari wajah manusia, padahal Dia yang meneliti hati dan mengenal isi batin kami (Mzm 139).
Melalui St. Paulus, Tuhan mengingatkan kami, bahwa Injil bukan sekadar kata-kata manusia, melainkan sabda-Nya yang hidup dan bekerja dalam diri mereka yang percaya (1 Tes 2). Inilah sabda yang menguatkan St. Monika dalam doa dan air matanya demi pertobatan puteranya, Agustinus. Ketekunan dan pengharapannya lahir bukan dari kekuatannya sendiri, tetapi dari kasih yang berakar dalam Tuhan.
Ya Tuhan, sering kali kami lebih sibuk mencari pengakuan manusia, atau terbebani oleh masalah hidup sehari-hari. St. Monika mengajar kami untuk berpegang teguh kepada-Mu dengan iman yang pantang menyerah, percaya, bahwa tidak ada doa yang sia-sia dan tak ada air mata yang terbuang percuma. Dalam kesunyian penantian, Engkau bekerja. Dalam pergumulan tersembunyi, rahmat-Mu sedang mempersiapkan buah keselamatan.
Yesus, Gembala Baik, bebaskan kami dari belenggu kesombongan dan ketakutan. Jadikan kasih kami tulus, iman kami teguh, dan pengharapan kami kokoh. Seperti St. Monika, mengajari kami bertekun untuk mendoakan mereka yang kami kasihi, dan percaya, bahwa kerahiman-Mu lebih kuat daripada dosa, dan terang-Mu sanggup menembus kegelapan terdalam.
Terpujilah Engkau, ya Tuhan, yang mengubah duka jadi sukacita, penantian jadi kepenuhan, dan doa jadi mukjizat.
Hari ini kami mau bersaksi bersama St. Paulus: “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

