Hidup ini jadi tidak indah, ketika didramatisasi.
Tidak ada yang ‘asli’ dalam hidup ini, karena dipenuhi dengan drama.
Apa pun yang terjadi dalam hidup ini telah kamu jadikan drama. Kamu merangkap sebagai sutradara, pemain, tapi bahkan sebagai penonton!
Bagi orang lain yang melihat, ketika hidup ini didramakan, maka tidak ada yang indah. Sama sekali tidak indah. Bahkan (maaf) hidup yang dudramatisasi itu menyebalkan!
Mari kita kembalikan hidup ini, pada pondasinya: Sutradara kehidupan ini adalah Tuhan, Sang Pencipta. Pemain dalam kehidupan ini adalah kita, yang harus memutuskan mana yang baik dan mana yang benar. Penontonnya adalah mereka yang melihat hidup kita, ketika kita bertindak yang baik atau yang benar.
Alangkah indahnya, ketika hidup kita tidak didramakan, tapi dimaknai dengan hati. Hasilnya adalah ‘nilai’ kasih sejati. Nilai itulah yang diwariskan sebagai ‘legacy’.
Rm. Petrus Santoso SCJ

