Yesus yang lembut hati ternyata bisa mengeluarkan kata-kata keras, ketika berhadapan dengan kemunafikan. la menegur para pemimpin agama, karena mereka mau menyesatkan orang-orang yang mereka pimpin. Dengan memaksakan hukum dan norma agama yang tidak ada sangkut pautnya dengan perintah Allah, mereka justru menampilkan Tuhan sebagai hakim yang kejam dan gambaran yang salah tentang kerajaan-Nya. Mereka membebani umat dengan peraturan yang tidak perlu, sehingga mengaburkan hal penting dari ajaran Tuhan, yaitu kasih kepada Allah dan sesama. Lebih parah lagi, mereka menggunakan dalil-dalil keagamaan untuk memperkaya diri dengan menindas janda-janda yang tidak memiliki pelindung. Mereka mempraktikkan tampilan lahiriah hidup beragama, tapi ajaran Taurat, seperti keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan mereka abaikan.
Kemunafikan adalah penyakit berbahaya dalam kehidupan rohani umat beriman. Mereka yang munafik, berpura-pura baik dan saleh, tapi di dalam hatinya tersimpan niat jahat untuk mementingkan diri sendiri, mungkin memiliki rasa aman, tapi itu sesungguhnya palsu. Sebab Tuhan Yang Maha Kuasa dapat melihat kedalaman hati mereka. Kemunafikan itu bukan hanya membuat Tuhan sedih dan kecewa, melainkan juga dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, komunitas, Gereja, dan masyarakat. Sebab orang merasa tertipu, kecewa, dan tidak percaya lagi kepada kaum munafik.
Apakah di dalam hati kita ada benih-benih kemunafikan? Apakah kita sudah berusaha untuk mematikannya sejak awal?
“Tuhan, semoga kami tidak pernah menutup Kerajaan Surga bagi orang lain melalui ketidakpercayaan, ketidakpedulian, atau ketidaktaatan kami. Amin.”
Ziarah Batin

