Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Suami yang mendirikan rumah, tetapi sang istri yang membawa masuk matahari.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Sebuah Keluarga Ideal
Keluarga ideal, ibaratnya, laksana sebuah ‘istana’ bagi sebuah keluarga itu. Di dalamnya, tentu terdapat Ayah, Ibu, dan sejumlah anak sebagai buah kasih mereka. Di dalam kondisi ini, ‘bahagia atau derita,’ tentu akan sangat bergantung dari kualitas masing-masing anggota keluarga itu. Artinya bagaimana tingkat kualitas hidup mereka, entah dalam kondisi susah dan senang, bahagia atau derita, tentu sangat bergantung dari sumbangan nyata dari masing-masing anggotanya.
Ayah yang adalah ‘soko guru’, alias tiang induk dalam keluarga, sedangkan Ibu adalah penopang yang mengayominya. Untuk itu, sungguh betapa vital dan besarnya peran sentral dari Ayah dan Ibu.
Peran Penting Orangtua
Di dalam sebuah keluarga kasih, tentu peran Ayah dan Ibu sebagai sentral bagi kebahagiaan dalam keluarga. Pertumbuhan dan kebahagiaan anak-anak itu sangat bergantung dari karakteristik kedua orangtua mereka.
“Ayahlah yang membangun sebuah rumah, sedangkan Ibu yang akan membawa masuk matahari ke dalamnya.” Artinya Ayah yang membangun unsur-unsur lahiriah, sedangkan Ibu yang menata dan meriasnya jadi kian sempurna. Ibu yang memberikan spirit dan roh kegembiraan serta kebahagiaan sejati ke dalam rumah.
Cita-cita sebuah Keluarga Kasih
Sebuah keluarga kasih adalah idealisme sejati dari semua keluarga di dunia ini. Idealnya, bahwa setiap anggota keluarga wajib menyumbangkan jasa baik mereka, demi menghadirkan sebuah keluarga kasih.
Sebuah idealisme yang harus dijaga bersama adalah mereka perlu tahu, apa serta ke mana orientasi hidup keluarga itu? Kebahagiaan model apa, yang ingin mereka raih? Kelimpahan materi, ataukah kekayaan rohani dan spiritual?
Dalam konteks ini, tentu mereka perlu bersepakat, bahwa model kekayaan rohani yang bersifat abadi ataukah kekayaan duniawi yang bersifat sementara yang ingin mereka perjuangkan? Bukankah orang-orang bijaksana berkata, “bahagia atau sengsara, semua itu, sangat bergantung dari kesepakatan manusia itu sendiri.”
Semoga lewat amanat tulisan ini, hati kita tergerak untuk membangun sebuah monumen keluarga yang paling ideal, yakni sebuah keluarga yang di dalamnya para anggotanya mengalami kasih.
Konklusi
Semoga, cita-cita mulia Ayah di saat membangun rumah pun sejalan serta setujuan dengan peran suci Ibu yang akan membawa matahari ke dalam rumah tangga mereka.
Kediri, 25 Agustus 2025

