Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mulutmu adalah harimaumu.”
(Peribahasa Bangsa)
Akronim dari ‘Asbun’
Akronim dari ‘asbun’ adalah asal bunyi. Hal ini dimaksudkan, bahwa di saat berbicara, orang tidak berpikir dulu secara matang, namun dilontarkan secara spontan.
Adapun dampak negatif dari budaya asbun ini justru melahirkan kekacauan di dalam masyarakat. Juga budaya asbun itu dapat terjadi sebagai akibat dari antara lain:
- berbicara tanpa berpikir;
- ekspresi dari sikap main kuasa;
- ekspresi dari sikap kebodohan;
- mau mengetes bagaimana reaksi dari warga masyarakat;
- serta sikap keangkuhan.
Dari Sebuah Berita Aktual
Media sosial gaduh oleh pernyataan seorang Menteri, bahwa semua tanah milik negara. Ia lantas mengklarifikasi dan meminta maaf kepada publik. Demikian pernyataan dalam paragraf pertama, harian Kompas, Jumat, (22/8/2025), kolom Opini, Surat kepada Redaksi berjudul, “Pernyataan Pejabat,” oleh Paulus Mujiran, Manyaran, Semarang.
Di dalamnya, Penulis ini mengkritisi sejumlah pernyataan dari para pejabat yang terkesan ‘asbun.’ Karena pernyataan-pernyataannya itu, justru berdampak melahirkan kegaduhan di dalam negara dan bangsa.
Adapun pernyataan-pernyataan itu antara lain:
- Isu pemblokiran jutaan rekening yang dianggap tidak aktif.
- Pernyataan seorang Bupati untuk menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen yang akhirnya mengundang aksi demo besar-besaran.
Dampak Psikologis
Dari sikap kontroversi dan liarnya aneka pernyataan oleh sejumlah pejabat yang kemudian diralatnya kembali lewat meminta maaf, justru memperlihatkan sikap yang tidak bertanggung jawab dan kekanak-kanakan. Spontan publik pun berkesimpulan, bahwa hal ini sebagai dampak dari sikap kesewenangan seorang pejabat sebagai akibat tidak pernah dirapatkan dalam sidang kabinet.
Sikap tidak Tahu Diri
Aneka pernyataan berstatus asbun ini, justru dipicu oleh sikap tidak tahu diri dari sejumlah pejabat kita. Mereka dengan seenak hatinya mengeluarkan aneka statemen, yang justru mengacaukan ketenteraman hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Para Pejabat Kita butuh Sikap Refleksi
Dari balik realitas hidup yang justru mengacaukan ketenteraman hidup ini, semoga para pejabat kita perlu berhati-hati dalam mengeluarkan pandangan serta pendapat mereka.
Lewat aneka peristiwa ini pula, semoga para pejabat kita perlu merefleksikan diri. Karena tanpa merefleksikan diri, yakinlah bahwa peristiwa serupa ini kelak akan terjadi kembali.
Budaya asbun adalah ekspresi dari budaya dungu!
Kediri, 23 Agustus 2025

