Ketika Menkeu menyebut, “Guru adalah beban negara” itu adalah semacam ‘mind-traps’ atau ‘thinking fallacies’ atau sesat berpikir, sebuah realitas yang semakin parah di era ‘Post-Truth’, zaman terbalik-balik, yang benar jadi salah, yang salah dibuat seolah-olah benar. Terus diulang dan jadi persepsi atau dianggap benar. Yang benar jadi terbungkus. Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya.
- 1) Orang yang baik, jujur, dan tampil apa adanya, secara sistematis akan ter(di)singkirkan. Orang ditolak, justru karena dia adalah orang baik, benar, dan memperjuangkan yang benar bagi kehidupan itu sendiri, yakni jujur dan apa adanya.
- 2) Orang dengan kebiasaan berpikir mendalam, penuh pertimbangan, dan berwawasan luas, justru akan dilabeli terlalu teoritis, tidak membumi.
- 3) Hal-hal yang kurang baik, diulang-ulang, dibicarakan, dan dianggap sebagai hal yang penting – jadi sebab terjadinya gaduh jiwa dan emosi yang membunuh akal sehat.
- 4) Kita hidup di era yang serba cair (liquid), ketika tata nilai jadi ambyar dan hancur, karena kegamangan tanpa kendali. Kita semua seakan berdiri di tengah pasir hisap, yang serba salah: bergerak sama artinya makin tertelan bumi. Tidak bergerak pun juga tidak dengan sendirinya dijamin aman.
Masih adakah tempat bagi orang yang berpikir lurus, kritis, dan sederhana? Tentu ada keterampilan menulis, memaknai setiap jejak langkah yang dilalui, dan tetap menjalankan hidup dengan penuh pertimbangan: itu semua adalah ‘safe haven’ bagi orang-orang waras, apa pun peran dan posisinya .
Pertanyaan refleksi adakah hal-hal seperti di atas terjadi di komunitas Anda. Yang sederhana, jujur, apa adanya, sudah hilang, dan tidak ada lagi?
Salam sehat.
Jlitheng

