Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang yang jujur dilepaskan oleh
kebenarannya, tapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.”
(Amsal 11: 6)
Sebuah Dambaan Universal
“Orang-orang jujur,” siapakah yang tidak merindukan kehadirannya? Orang-orang yang mencintai kejujuran, di mana-mana justru sangat sulit untuk dijumpai. Dia pun indah, bagai setangkai mawar merah, secemerlang laksana batu permata, dan setia bagai sekeping mentari.
Ya, sungguh, amat sulit kita menjumpainya, sekali pun bukankah kejujuran adalah sebuah obsesi manusia secara universal?
Kisah Sebuah Kejujuran yang Memesonakan Hati
“Mengupas Kulit Kacang,” demikian nama sebuah kisah tentang kejujuran. Kisah unik ini terjadi di negeri tirai bambu, Tiongkok kuno, China.
Suatu hari, seorang Ayah menugaskan kedua putranya, Kakak dan Adik untuk berlomba hal kecepatan mengupas kulit kacang. Dalam ajang lomba itu, tampak sang Adik justru lebih sigap daripada sang Kakak.
Menyaksikan keadaan itu, maka seseorang pun segera membisikkan sesuatu ke telinga Kakak, bagaimana caranya agar proses pengupasan kulit kacang itu dapat dilakukan dengan cepat. Setelah itu, Kakak segera mempraktikan cara baru. Alhasil, kini dia mengungguli Adiknya.
Setelah menuntaskan perlombaan itu, ia segera menghadap pada Ayah untuk melaporkan hal kemenangannya itu. Tapi tampak wajah Ayahnya justru tanpa ekspresi kegembiraan. Malah, ia ditugaskan untuk menyampaikan rahasia itu kepada Adiknya.
Di depan Ayahnya, disampaikannya rahasia itu kepada Adik, bahwa “Masukkan semua kacang itu ke dalam air mendidih. Rendam sesaat, kemudian kupaslah.”
Lalu Ayah itu bertanya, “Apakah cara yang baik ini hasil dari pikiranmu sendiri?” Maka, dalam keraguan ia menyahut, “Ya.” Maka, seketika itu, sang Ayah jadi sangat kecewa. Lalu disuruhnya kedua putranya itu meninggalkannya sendirian.
Setiba di kamarnya, Kakak itu mulai ragu dan gelisah, karena sikap ketidakjujurannya itu. Maka, ia segera menemui Ayahnya dan berkata, bahwa ia telah membohongi Ayahnya.
Kini sang Ayah tersenyum gembira dan tegas mengajarkan kepada Kakak, bahwa “Kejujuran adalah hal yang paling dibutuhkan untuk hidupmu dan orang-orang di sekitarmu. Jika sejak kecil kamu sudah belajar membohongi hati nurani sendiri, kelak ketika kamu besar, hati nuranimu akan kebal terhadap semua peringatan yang pernah kamu terima. Bahkan kamu akan jadi orang yang tanpa ragu-ragu membuat orang lain dan dirimu sendiri susah.”
Dengan wajah arif dan bersikap tenang Ayah menjelaskan, bahwa seseorang yang tadi membisikkan rahasia, bagaimana cara agar dapat cepat dan mudah mengupas kacang adalah atas suruhan Ayah. Tujuannya adalah untuk menguji sikap kejujuran Kakak.
Di balik itu, agar kelak, jika putranya jadi seorang pemimpin, maka boleh menggunakan pendekatan itu untuk menguji kejujuran dari setiap bawahannya.
(Kornelius Sabar)
Chinese Inspirative Stories.
Amanat bagi Kita Hari ini
Sungguh terberkati dan terpujilah Anda, jika orangtuamu telah mendidikmu soal “pentingnya sikap kejujuran di dalam praktik hidupmu kelak.”
Alangkah hancur dan remuknya nilai-nilai luhur dalam praktik kehidupan kita, tatkala dunia kita kini, justru menjejali isi kepala dan nurani suci kita dengan sikap kebohongan serta ketidakjujuran.
Apa artinya nilai kesuksesan dan kegemerlapan hidup Anda, jika ternyata pernik-pernik hidupmu itu, justru dibangun di atas dasar tanah berpasir alias di atas pondasi kebohongan?
Mari, menapakkan tumit-tumit kaki kita di atas tebing karang kebenaran dan kejujuran sejati!
Kediri, 22 Agustus 2025

