Pada zaman Yesus, orang-orang upahan harus menunggu setiap hari di pasar sampai ada orang yang mempekerjakan mereka. Jika tidak ada pekerjaan pada hari itu berarti tidak ada makanan di meja keluarga.
Dalam perumpamaan Yesus, para pekerja yang bekerja sepanjang hari itu mengeluh, karena majikan membayar pekerja yang datang sore hari dengan upah yang sama dengan mereka yang bekerja sepanjang hari. Namun, sang majikan berpikir, ini bukan hanya soal keadilan, melainkan juga soal kemurahan hati. la memberikan upah yang sama untuk mereka yang bekerja pada sore hari, supaya keluarga mereka dapat makan dan bertahan hidup.
Tuhan selalu bennurah hati kepada orang yang rajin dan selalu setia bekerja. Setiap orang akan diberikan rezeki seturut kehendak-Nya. Iri hati pada penghasilan orang lain itu hanya makin memperburuk kehidupan batin seseorang. Alih-alih iri hati, hendaknya kita mesti bersyukur atas penghasilan yang diterima, karena Allah memberi kesempatan untuk menikmati makanan dan minuman. Manusia tidak dapat mengatur keberuntungan dalam hidup. Ini adalah hak prerogatif Tuhan.
Apakah kita melakukan pekerjaan dan tanggung jawab itu dengan sukacita dan ketekunan demi Tuhan? Apakah kita memberi dengan murah hati pada orang lain, terutama pada mereka yang membutuhkan perhatian dan dukungan kita?
“Tuhan, semoga kami mampu melayani Engkau dan sesama dengan murah hati dan penuh sukacita. Amin.”
Ziarah Batin

