Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika tidak bisa merasakan tim, kita sebenarnya tidak sedang memimpin.”
(Mich Hunt)
Aneka Kecerdasan Manusia
Dalam perkembangan dunia modern, kita mengenal aneka kecerdasan yang idealnya mutlak dimiliki, demi mendukung dan menyejahterakan dinamika kehidupan ini.
Antara lain:
- IQ (Intelligent Questions), kecerdasan nalar atau intelektual.
- EQ (Emotional Questions), kecerdasan emosional.
- SQ (Spiritual Questions) kecerdasan spiritual.
Dalam dunia kerja yang penuh perbedaan perspektif, konflik ide, dan tekanan deadline, kemampuan menerima kritik tanpa baper, menanggapi masalah tanpa drama, dan menghargai pandangan yang bertolak belakang adalah kunci. “Kepemimpinan sejati itu berakar dari rasa, bukan sekadar hasil.” Demikian pandangan paling fundamental dari Eileen Rachman & Emilia Jakob, dalam kolom Karier, Kompas, Sabtu, (16/8/2025), dengan judul, “Kematangan Emosional.
Seperti yang sudah ditekankan oleh Mich Hunt, bahwa “Jika tidak bisa merasakan tim, kita sebenarnya tidak sedang memimpin.” Artinya dalam proses bekerja, kita sebetulnya belum mampu menyatukan antara logika berpikir kita dengan rasa yang kita alami. Relasi ideal antar keduanya, masih jomplang. Tampak dari luar, kita seolah-olah sangat solid, namun ternyata hampa di dalamnya.
Hal ini sering kali dapat terjadi di dalam diri pemimpin yang cerdas secara strategis, namun ia ternyata tidak mampu mengendalikan emosinya. Semisal, jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan jalan pemikirannya, maka ia akan sangat mudah meledak emosinya.
Kecerdasan vs Kematangan
Eileen dan Emilia mampu memetakan dengan sangat tepat, perbedaan antara ‘kecerdasan emosi dan kematangan emosi.’
Keduanya menulis, bahwa ‘kematangan emosional berbeda dengan kecerdadan emosi (EQ) yang sering didengung-dengungkan sebagai salah satu komponen penting untuk dimiliki seorang pemimpin. EQ yang tinggi dapat membantu individu untuk mengidentifikasi emosi dirinya dan orang lain, serta menyesuaikan dengan situasi yang ada.’
Sementara dalam kematangan emosional, individu perlu memiliki tingkat kesadaran diri, agar tidak dikendalikan oleh emosinya meskipun dipicu. EQ ibarat seorang yang memiliki keterampilan memasak dengan baik, sementara orang dengan kematangan emosional adalah mereka yang bisa menahan diri, ketika berpuasa; tidak tergoyahkan, meskipun di hadapannya disajikan masakan lezat.
Empat Fondasi Penting bagi Pemimpin yang Matang Emosional
- Pemimpin yang hadir itu tidak sekadar fisik, namun juga emosi. Artinya, kehadirannya dapat menumbuhkan rasa nyaman dan aman.
- Pemimpin yang berempati. Artinya, lewat sikap empatinya, maka relasi emosionalnya itu akan terbangun.
- Pemimpin yang berani. Artinya, ia berani untuk berbicara tentang sesuatu keadaan atau suatu prestasi secara jujur.
- Pemimpin yang mampu menahan. Artinya, ia mampu mengendalikan diri untuk bersikap secara tepat dan benar sesuai sikonnya.
(Eileen & Emilia)
Semoga kian sadarlah kita, bahwa sungguh, betapa penting dan vitalnya, kehadiran seorang pemimpin yang memiliki kematangan emosional.
Jika hal ini kita bangun bersama, organisasi itu tidak hanya jadi lebih sehat dan kuat. Karena tidak pada hasil akhir itu yang penting, tapi juga bagaimana proses perjalanan kita sampai ke sana.
Memaknai proses meraih sukses!
Kediri, 20 Agustus 2025

