“Tuhan adalah damai sejahtera … dan bersama-Nya, segala sesuatu itu mungkin.”
Allah Bapa memanggil Gideon yang bersembunyi dalam ketakutan, sambil meneguhkannya: “Tuhan menyertai engkau, pahlawan yang gagah perkasa!” Namun Gideon masih ragu dan meminta tanda. Allah dengan sabar menyingkapkan diri-Nya sebagai “Tuhan adalah damai sejahtera.”
Sering kali kami pun seperti Gideon: takut, ragu, dan masih melekat pada hal-hal yang memberi rasa aman semu.
Dalam Injil, Yesus mengingatkan, bahwa kekayaan dan keterikatan duniawi itu bisa membelenggu hati sehingga sulit masuk Kerajaan Surga. Benar, dengan kekuatan manusia itu mustahil; hanya rahmat-Nya yang memerdekakan.
Sabda Tuhan memberi harapan: “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm 85). Ia berjanji, bahwa siapa pun yang rela meninggalkan segala sesuatu demi Kristus akan menerima lebih banyak lagi: kehadiran-Nya, damai sejahtera-Nya, sukacita yang berlimpah, dan hidup kekal di kemudian hari.
Bapa, tolong kami mengenali yang membelenggu hati kami: harta, kenyamanan, kesombongan, atau ketakutan. Ajari kami menyerahkan semuanya itu ke dalam tangan-Mu, supaya hati kami bebas mengikuti Yesus. Seperti Gideon, izinkan kami belajar bersandar bukan pada kekuatan kami, melainkan pada kekuatan-Mu. Juga seperti Petrus, izinkan kami sadar, bahwa upah sejati bukanlah “apa yang kami peroleh,” melainkan “siapa yang kami miliki”, yaitu Kristus sendiri.
Ya, Tuhan, berilah kami hikmat untuk memilih Engkau di atas segalanya, dan keberanian untuk membiarkan damai-Mu merajai hati kami.
“Yesus, Engkaulah andalan kami.” Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

