“Kami telah berdosa seperti Nenek moyang kami … Namun Allah berbelas kasih, Ia mendengarkan seruan mereka.”
Sering kali kami seperti Israel yang melupakan kebaikan Tuhan. Kami terikat pada ‘allah’ lain: kenyamanan, harta, atau diri sendiri. Hati kami jadi kosong dan jauh dari-Nya. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Ia selalu mendengar seruan kami dan berulang kali membebaskan kami.
Seorang muda yang datang kepada Yesus itu merindukan hidup kekal. Ia sudah setia pada perintah, tapi ia sadar masih ada yang kurang. Sesungguhnya bukan sesuatu yang kurang, melainkan seseorang, yakni Kristus, Sang Harta Surgawi. Tapi hatinya terlalu melekat pada kekayaannya, sehingga ia pergi dengan sedih.
Tuhan, sering kali kami seperti dia merindukan-Mu, tapi enggan melepaskan yang mengikat kami. Ajari kami melihat, bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang mampu memuaskan dahaga terdalam kami. Seperti kata Santo Agustinus: “Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.”
Yesus, tolong kami percaya, bahwa Engkau tidak mengambil yang baik dari hidup kami, tapi justru melepaskan kami dari belenggu itu agar kami mampu merangkul yang kekal. Berilah kami rahmat untuk memilih Engkau di atas segalanya, mengasihi dengan hati yang terbagi, dan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau memimpin.
Yesus yang Maha Rahim, Engkaulah Andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

