Red-Joss.com – Banyak orang tidak mengerti, kenapa Jepang yang luas wilayahnya tidak terlampau besar, jumlah penduduknya tidak terlampau banyak, dan sedikit sumber daya alamnya, tapi mampu membangun sejarah hebat dalam berbagai sisi sampai saat ini.
Di tahun 1940-an, Jepang menggetarkan dunia dengan gerak militernya. Banyak wilayah direbut termasuk Indonesia dari tangan Belanda. Kalau tidak ada bom atom di dua kota Hirosima dan Nagasaki, gerak Jepang tak akan berhenti.
Lihatlah, meski saat itu Jepang telah luluh lantak, mereka bisa segera bangkit. Kebangkitannya relatif cepat dan menakjubkan.
*
Dunia pendidikan, sosial, ekonomi, seni bahkan termasuk olahraga dirambah oleh Jepang. Piala Dunia 2022 di Qatar, Jepang sempat menundukkan Jerman dan Spanyol, meski akhirnya tunduk kepada Kroatia. Hal ini sungguh prestasi yang luar biasa.
*
Semangat nilai-nilai luhur ‘Bushido’ (tentang kesungguhan, keberanian, kebaikan, kesopanan, kejujuran, kehormatan, kesetiaan)
sepertinya sangat menginspirasi sekaligus filosofi bagi masyarakat Jepang. Mereka melakukannya dengan semangat “Doing the best.” Semua pekerjaan dilakukan dengan yang terbaik, dengan totalitas. Jepang mendemonstrasikan hal ini kepada dunia.
*
Ada peristiwa kecil kualami, saat di tengah keramaian hiruk pikuk orang di Shinsaibashi. Ternyata kartu Suica (kartu ini dipakai untuk keluar/masuk stasiun kereta dan bisa dipakai untuk beberapa keperluan lain. Di sana ada nilai uangnya. Seperti E-toll) jatuh dari kantong celana tanpa kusadari.
Dari belakang saya ada orang Jepang yang mengambilkan, dan menyentuh bahuku. Lalu memberikan kartu itu.
Kejadian ini juga pernah dialami oleh anak-anak kami, di hari-hari sebelumnya.
Orang Jepang tidak mau mengambil yang bukan haknya. Itu sebabnya di Jepang sangat terkenal dengan tempat “Lost and Found”, barang-barang hilang bisa lebih mudah ditemukan kembali. Ada banyak tempat “Lost and Found” itu.
*

Nilai-nilai luhur Jepang di atas itu terus diwariskan kepada generasi muda, sejak mereka kanak-kanak.
Aku pernah melihat serombongan anak-anak sekolah sekitar berjumlah 7 atau 8 orang yang dipimpin seorang guru perempuan hendak menyeberang jalan. Bukan di jalan protokol, tetapi jalan perkampungan. Pas di sana ada mobil yang hendak lewat.
Mobil itu ternyata berhenti dan memberi kesempatan anak-anak itu menyeberang dulu.
Aku melihat, setelah mereka menyeberang, guru dan anak-anak itu berhenti, dan dengan tetap berdiri memandang sopir mobil yang sedang lewat itu, lalu serempak membungkukkan badan, sebagai ucapan hormat dan terima kasih.
Semangat ‘bushido’ yang luar biasa!
Bagaimana dengan kita?
…
Setio Boedi


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.