Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Yang tersisa kini hanya sepenggal kata paling akhir dari desah mulutku, aku haus.”
(Pada Sepotong Catatan)
Seruan Minta Tolong
“Aku Haus,” demikian judul dari tulisan refleksi ini. Adapun latar belakang dan spirit dari tulisan ini merupakan sebuah refleksi tentang makna ‘getirnya kehidupan ini.’
Sang peneriak itu mengeluhkan tentang betapa sulitnya ia menghadapi pergulatan panjang dari kehidupan ini. Kini ia pun sudah tidak berdaya lagi, karena seruan ‘aku haus’ adalah bagian paling akhir dari totalitas panjangnya derita yang digumulinya.
“Kini yang tersisa, hanya sepenggal kata paling akhir dari desah mulutku, yakni aku haus!”
Hidup dan Pergulatannya
Dinamika hidup ini, ternyata tidak hanya ibarat membalikkan telapak tangan, artinya sang kehidupan mau mendeskripsikan, bahwa hidup ini memang tidak mudah alias sangat-sangat sulit.
Ya, tentang kesulitanlah yang ingin dikedepankan kepada umat manusia.
Kepada kita mau dikatakan, bahwa kehidupan ini, justru merupakan sebuah pergulatan panjang yang merupakan bagian tak terpisahkan dari serangkaian totalitas kehidupan seorang anak manusia. Pergulatan itu adalah suatu bagian yang justru jadi penanda, bahwa siapakah Anda itu. Kuat atau lemahkah Anda?
Di dalam konteks ini, pergulatan itu sudah merupakan sebuah batu ujian bagi seorang anak manusia. Artinya kualitas dan daya juang Anda, justru ditakar lewat seberapa kuatnya Anda untuk bertahan menghadapi kesulitan hidup.
Refleksi Akhir
Manusia, si jenius hebat itu, justru kadang kala terjebak dalam kekalutan hidup yang menjadikan dia akhirnya tersudut dan malang.
Harapan yang tidak terjelmakan membuat dia kian terseok tak berdaya. Hingga yang tersisa hanya setitik kekuatan yang paling akhir, ialah sebongkah kekalahan!
Ya, ternyata betapa getirnya kehidupan ini!
Kediri, 17 Agustus 2025

