“Ketika bangun, saya seperti berada di tempat asing. Udara diam, sepi, dan gelap mencekam serasa tiada kehidupan.“ -Mas Redjo
Ada di mana saya? Perlahan tapi pasti, kesadaran saya mulai utuh, dan normal. Saya di ranjang, dan tampak samar-samar, istri sedang tertidur lelap. Apakah mati lampu?
Saya meraba mencari hp yang biasa saya taruh di dekat bantal, karena tiada cahaya pantulan dari luar, dan itu berarti lampu mati.
Saya memencet hp agar muncul cahaya. Ternyata gagal, dan tidak bercahaya. Padahal, saya ingat baterai hp itu ful, karena semalam sudah dicas. Lalu…?
Dada ini berdesir. Sambil meraba, saya turun dari ranjang untuk mencari senter di atas meja kerja. Saya nyalakan, tapi tidak menyala alias mati. Baterai habis? Begitu pula dengan jam weker di atas meja itu tidak terdengar suara detaknya lagi. Ada apa ini?
Berbagai pertanyaan mendera hati ini, membuat saya jadi penasaran dan was-was.
Dengan susah payah saya ke luar rumah. Ternyata di luar juga gelap mencekam dan serasa tidak ada kehidupan. Langit menghitam bagai jelaga, tiada bulan dan bintang. Juga tidak terdengar kendaraan bermotor yang lewat, suara unggas, maupun desir angin. Dunia seakan berhenti dari titik edarnya, dan mati!
Tiba-tiba serasa ada yang hinggap di bahu saya, dan itu membuat saya memekit kaget. Ternyata mulut ini seperti terkunci. Tidak ada suara yang ke luar.
“Burung, kau salah hinggap. Aku tangkap, ya…!” kata saya, tapi tersekat di tenggorokan. Burung itu diam. Bisa jadi burung itu yang biasa saya kasih makan, sehingga tidak takut saya, tapi jinak. Banyak burung membuat sarang di rumah saya, di antaranya burung gereja, terkukur, perkutut, kutilang… Karena halaman rumah saya juga rimbun pepohonan.
“Mengapa burung itu tidak terbang …,” pikir saya.
“Karena saya percaya padamu, Bos,” kata burung itu.
Astaga…! Ternyata burung itu mampu membaca pikiran saya. Ia diam, ketika saya tanggap, bahkan manja minta dielus.
“Di mana temanmu yang lain?”
“Mungkin di sarang. Tadi saya jatuh, lalu terbang menabrak Bos, karena gelap.”
Jadi… cuaca gelap bagai jelaga. Tiada suara, desir angin, … Hari ini sudah berganti pagi atau …?
Saya bergidik ngeri. Burung itu juga tidak tahu, sekarang ini malam, pagi, atau siang. Gelap gulita tiada cahaya… hanya samar dan remang.
“Mengapa tak ada suara unggas, burung…”
“Karena seluruh hewan tidak mau bersuara lagi, Bos. Matahari tidak mau bersinar lagi… kami protes keras, karena banyak orang nir pikiran.”
“Coba Bos pikir. Bos mendengarkan suara saya dikenai royalti, tapi uangnya tidak diberikan ke saya. Ntar saya mendengarkan suara Bos, bayar royalti juga. Apakah aturannya seperti itu? Bernafas, jika dikenai royalti gimana…?”
“Bisa jadi kita harus bicara dalam hati saja…”
“Iya, Bos… Saatnya kita bertobat Bos, sebelum terlambat.”
Saya dan burung itu lalu umik-umik dengan pikiran. Takut dikenai royalti.
Mas Redjo

