Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Dalam komunitas adat budaya, ada warisan bahasa dari leluhur. Beberapa, ada yang tertulis, namun umumnya bahasa lisan. Ada bahasa untuk komunikasi harian, ada bahasa dalam ritual, ada juga budaya. Banyak yang sudah hilang tergerus zaman, karena komunitasnya pun punah, tidak bertahan dan berkembang. Perkembangan zaman membuat semacam seleksi alam bagi manusia dan bahasanya di setiap komunitas adat budaya.
Sering tergelitik, ketika sampai saat ini, ada banyak komunitas yang menghidupi bahasa adat budayanya, termasuk bahasa sakral untuk ritual.
Tidak ada sekolah, padepokan, dan pelatihan bagi generasi pewaris. Yang terjadi adalah pembiasaan dan pengalaman, ketika mengikuti aktivitas adat budaya.
Mengherankan, ada generasi pewaris yang bisa menguasai bahasa adat ritual dengan sangat memadai, meskipun jarang terlibat ritual adat budaya. Bahkan sejak masa kecil justru ada di luar komunitas adat budayanya, karena kegiatan sekolah atau merantau dengan orangtuanya. Katanya, yang demikian itu, seleksi alam dan leluhur. Sampai kapan bisa bertahan?
Zaman modern, dengan tradisi tulis, membuat lebih mudah untuk belajar bagi generasi penerus. Banyak literasi terjadi di sekolah dan perpustakaan. Namun, minat baca bervariatif antar pribadi dan lokasinya.
Zaman digital Milenial, jauh lebih tersedia pilihan dan memudahkan generasi zaman now. Alat teknologi informasi ada digenggaman tangan.
Sajian bahasa dalam aneka konten membanjir setiap waktu, anak bebas memilih. Apalagi bangsa kita sedang gencar kurikulum Merdeka Belajar. Jadi, anak-anak semakin merdeka. Entah mau jadi apa?
Kemajuan Iptek tak bisa disetop, manusia dipaksa beradaptasi memilih dan memutuskan.
Bahasa kampung adat budaya, dengan konteksnya, membentuk anggota komunitas untuk berpikir, berbicara dan berperilaku. Dalam bahasa terkandung multi aspek kehidupan, termasuk nilai, tata krama dan spiritualitas.
Ketika dibading dengan bahasa digital milenial, maka sungguh jelas berbeda isi dan konteks. Anak-anak zaman now, dibentuk bukan lagi oleh orangtua dan komunitas sosial terdekat. Mereka sekarang dibentuk oleh manusia dunia yang tak dikenal, komunitas data maya, yang menguasai teknologi informasi, dengan aneka konten yang berbeda prinsip serta kepentingan.
Dalam derasnya teknologi informasi digital, bahasa menjadi semakin asing dan kompleks. Bedanya adalah kapasitas orangtua, guru, apalagi generasi muda dan anak, untuk memiliki ketrampilan serta kecerdasan berbahasa dan memakai model bahasa digital. Akankah kemajuan Iptek dengan bahasa digital membuat punah bahasa komunikasi langsung antar pribadi dan komunitas manusia?
Bahasa humanistik menuju bahasa robot dan bahasa data dunia maya. Manusia terasing dari dirinya dan komunitasnya, lalu menjadi data dan robot, hasil ciptaannya juga. Misteri.

