“Pengampunan adalah sungai di mana belas kasih Allah mengalir tanpa henti. Masuklah ke dalamnya, dan engkau akan sampai ke seberang: kesembuhan dari setiap luka.”
Ketika Allah Bapa menuntun Israel menyeberangi sungai Yordan, airnya surut dan bumi gemetar di hadapan-Nya. Ia membuka jalan di mana tidak ada jalan, membuktikan, bahwa tidak ada yang dapat menghalangi kuasa dan kasih-Nya.
Begitu pula Yesus, Putra-Nya membuka jalan di tengah derasnya arus kepahitan, memanggil kami untuk berjalan di tanah kering lewat jembatan pengampunan.
Yesus mengajar kami, lewat pertanyaan Petrus, bahwa pengampunan itu tidak mengenal batas. Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh; bukan diukur dengan ingatan, melainkan mengalir seperti Yordan di musim banjir, menyapu bersih tembok pemisah antar hati. Dia memanggil kami mengganti budaya balas dendam dengan budaya hidup dan belas kasih.
Dalam Kerajaan-Nya, belas kasih itu bukan sekadar anjuran, melainkan napas kehidupan. Seperti Raja dalam perumpamaan hari ini, Ia menghapus hutang kami yang tidak terbayar, karena belas kasih, dan Ia mengundang kami melakukan hal yang sama bagi sesama. Menolak mengampuni berarti menutup diri dari aliran rahmat-Mu dan terjebak di tepi kepahitan.
Tuhan, dalam diri Santo Maksimilianus Kolbe, Engkau memberi teladan Injil. Seseorang yang bukan hanya mengampuni, melainkan rela menyerahkan hidupnya agar orang lain tetap hidup. Belas kasihnya itu mahal harganya, namun itulah kemenangan kasih sejati di tempat maut berkuasa. Ajarlah kami, bahwa belas kasih bukan kelemahan, melainkan puncak kemenangan kasih.
Santa Faustina mengungkapkan: “Dia yang tahu memberi ampun itu menyediakan bagi dirinya sendiri banyak rahmat dari Allah” (BHF #390). Jadi mengampuni itu menguntungkan bagi si pemberi ampun; ini bertolak belakang dengan tipuan yang dibisikan si jahat ke telinga kami: “Jangan diampuni, keenakan dia dong.” Iblis ingin mencegah kami menerima rahmat berlimpah!
Bapa, aku akui hatiku kadang enggan mengampuni, seakan-akan ‘hakku’ lebih berharga daripada damai-Mu. Namun aku tahu, berapa pun hutang orang kepadaku tidak sebanding dengan belas kasih yang Engkau curahkan kepadaku. Luaskanlah hatiku untuk menerima rahmat-Mu lebih dalam, agar dapat melimpah dalam kesabaran, sukacita, dan pengampunan. Jadikan hidupku tempat penyeberangan: kesaksian hidup, bahwa Allah yang membelah air masih membuka jalan bagi belas kasih untuk terus mengalir.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

