Mereka berdua duduk di taman menikmati kesendirian, tanpa ada komunikasi.
Pemuda itu berpikir jauh melintasi waktu, bagaimana jadi tua dan seperti dia. Sedang orangtua itu tidak tahu yang dipikirkan dan hendak dilakukannya.
Mereka berdua duduk berdekatan, tapi tidak saling tahu dan tidak mau mencari tahu. Mereka berdiam diri dengan keterasingannya dalam sunyi.
Dia lalu berdoa untuk orangtua itu agar bahagia melalui hari-harinya. Senantiasa dicintai keluarganya dan hidup damai sejahtera.
Ketika orangtua itu lalu beranjak pergi, pemuda itu berbisik, “hati-hati di jalan.”
Tidak lama kemudian, datang lagi orangtua yang lain. Ia duduk rilek, dan asyik dengan mobilenya. Tampak jari-jarinya lincah menari.
Mereka berdua diam, dalam hening dan sunyi.
Pemuda itu lalu sibuk juga dengan mobilenya. Tapi masing-masing mempunyai dunia yang berbeda.
Jika kita adalah orangtua atau pemuda itu. Adakah pernah terlintas dalam pikiran kita untuk mendoakan, meski tidak saling mengenal?
Padahal saling mendoakan itu karunia yang indah. Doa itu adalah berkat untuk yang didoakan.
Tidak ada salahnya, jika kita belajar untuk memulai mendoakan orang lain. Kadang tanpa diketahui, kita didoakan oleh orang yang tidak kita kenal juga.
Mari kita saling mendoakan agar doa itu jadi berkat bagi yang didoakan.
Kita belajar dari Santo Maximilian Kolbe yang hari ini diperingati. Dia tidak hanya mendoakan orang yang menderita, tapi bahkan dia berani mengorbankan hidupnya untuk mereka. Teladan hidup yang tidak mudah ditemukan dan dilakukan di zaman ini.
Macau, 14 Agustus 2025
Rm. Petrus Santoso SCJ

