“Ketika belas kasih jadi respon pertama kita, relasi yang retak pun dapat berubah jadi kesaksian kemuliaan Allah.”
Allah Bapa menunjukkan kepada Musa keindahan tanah terjanji. Dia memanggilnya pulang ke pangkuan-Nya. Dia yang karya-Nya mengundang seluruh bumi untuk bersorak sukacita. Hari ini Dia mengajak kami untuk berjalan dalam roh pengharapan dan belas kasih yang sama, saat menghadapi luka dan perpecahan.
Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengingatkan, bahwa perselisihan itu bukanlah akhir, melainkan undangan untuk pemulihan. Dia berbicara sebagai Gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan untuk mencari yang satu, dan sebagai sahabat yang pernah dikhianati, disalahmengerti, dan dilukai. Dia mengenal rasa sakit kami, dan mengajar kami untuk membalasnya bukan dengan dendam, melainkan dengan kesabaran, kerendahan hati, dan belas kasih.
Beri kami hati yang mau memulai dengan pembicaraan pribadi yang jujur, hati yang ingin memenangkan kembali saudara, bukan menjauhkannya. Ingatkan kami, ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Mu, Engkau hadir untuk melembutkan hati, menuntun kata-kata, dan membuka jalan bagi rekonsiliasi.
Ketika rekonsiliasi terasa jauh, ajari kami kebijaksanaan kasih untuk tetap berdoa, berharap, dan tetap membuka pintu, sebagaimana Engkau menyambut pemungut cukai dan orang berdosa, bukan untuk menghukum, melainkan untuk memanggil mereka pulang. Biarlah jarak, jika memang diperlukan, bukan jadi tembok, melainkan ruang untuk pemulihan, di mana belas kasih-Mu bekerja diam-diam.
Tuhan, jadikan kami saksi janji-Mu, bahwa segala sesuatu turut mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Engkau. Biarlah hidup kami menggema seperti nyanyian pemazmur: Mari lihat karya-karya Allah; biarlah pujian-Nya terdengar sampai ke ujung bumi! Bentuklah kami jadi duta belas kasih-Mu, agar tak seorang pun tetap tersesat, dan semua dapat kembali kepada-Mu.
“Yesus, Engkaulah andalanku.”Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

