Banyak hal yang membuat kita jadi heran. Apa yang dikatakan? Apa yang dilakukan? Apa pula yang dilihat dan didengar? Banyak hal yang tidak nyambung.
Suatu hal yang membuat kita jadi heran itu pasti mendapatkan reaksi: spontan atau dengan dipikirkan terlebih dahulu. Sebenarnya, apa yang terjadi?
Timbal balik dari keheranan itu juga bisa terjadi. Misalnya, aku heran dengan dirimu, karena tidak seperti yang aku ketahui selama ini. Kamu heran dengan diriku, karena aku sangat berbeda dari yang kau kenal selama ini.
Semoga hal yang membuatmu heran itu tidak berubah jadi curiga atau benci. Karena yang dicurigai dan menimbulkan kebencian itu pasti datangnya dari yang jahat. Akhirnya, jadi tidak senang, marah, dan lebih parah… jadi membenci! Rasa benci itu yang membuat kita berdosa.
Ketika ada suatu hal yang membuat kita jadi heran itu biasa. Anggap saja hal itu bagian dari suatu proses untuk mengenal. Artinya, kita diberi waktu dan kesempatan untuk lebih dekat lagi.
Sesungguhnya banyak hal yang mendatangkan keheranan. Tidak hanya tentang seseorang, tapi peristiwa-peristiwa di sekitar kita.
Alangkah bijak, jika hal itu dipilah-pilah dan disikapi dengan rendah hati agar kita tidak bingung sendiri.
Bisa jadi, atau konyol, jika kita heran dengan diri sendiri, karena banyak berubah.
Jika kita heran dengan diri sendiri, coba dilihat dulu dan dicermati, heran karena berubah jadi baik atau berubah jadi buruk. Berubah untuk jadi lebih baik, kita segera bersyukur kepada Tuhan. Sedang berubah jadi buruk, kita harus segera memperbaiki diri. Sebab, jika tidak segera diperbaiki, kamu sendiri saja heran, apalagi orang lain yang melihatmu, pasti heran.
Begitu pula, jika para sahabat heran dengan tulisanku ini, tidak apa-apa, karena kadang-kadang aku bisa membuatmu heran. Berarti juga kamu belum mengenalku dan diberi waktu serta kesempatan untuk mengenalku atau aku harus sadar diri, segera memperbaiki diri.
Macau, 11 Agustus 2025
Rm. Petrus Santoso SCJ

