“Sesukses-suksesnya anak yang mencapai puncak prestasi, lebih sukses itu mereka yang berbakti pada orangtuanya.” -Mas Redjo
Jika bakti pada orangtua itu identik tinggal bersama dan mengopeni mereka, saya tidak sependapat.
Alangkah bijak, jika kita jeli melihat fakta itu secara proposional dan berimbang. Kita tidak berasumi, apalagi mudah menghakimi orang lain.
Saya melihat fakta itu dari tetangga rumah di komplek, Mbak TK yang anak tunggal Pak NS. Mbak TK mengikuti suaminya yang bule itu, dan sering berpindah-pindah tugas. Pak NS mau diajak serta oleh Mbak TK, tapi ditolak. Apa permintaan Pak NS yang tinggal sendirian itu?
“Saya merasa terawat dan aman tinggal di panti jompo.”
Alasan Pak NS sederhana dan itu membuat saya salut-sesalutnya, adalah ia tidak mau merepoti anak. Anak Mbak TK dua orang dan ia lansia. Apalagi menantunya itu sering berpindah tugas antar negara.
Mengurus anak yang masih kecil itu tidak gampang, apalagi, jika Pak NS jatuh sakit, tentu repot sekali. Hal tidak terbayangkan. Jika di panti jompo itu terjamin, terawat, dan aman.
Bagi Pak NS sendiri, berbakti pada orangtua itu tidak identik sekadar mengopeni, tapi yang utama adalah peduli dan perhatian Mbak TK itu teramat besar. Selalu menyediakan waktu mengunjunginya, setidaknya setahun sekali, selain rutin video-call dan mengirimi biaya bulanan untuk kebutuhannya.
Menurut Pak NS, ia tinggal di panti jompo itu tidak merasa dibuang atau diasingkan keluarga. Sejatinya yang membuat pikiran ini jadi pusing, karena kita mengurusi omongan orang dan meresponnya secara negatif. Sehingga sakit hati sendiri.
“Hidup ini sederhana, ya disyukuri dan dinikmati saja. Yang njlimet itu sebenarnya ego dan keinginan kita,” gelak Pak NS, ketika Minggu pagi itu kita bertemu di Gereja.
Wajah Pak NS sumringah, hidupnya seperti tiada beban. Lepas dan ikhlas.
Mas Redjo

