Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jiwa letihmu kan kian meresah sepi dan engkau pun beranjak hanya dililiti seutas kafan fana.”
(Pada Sepotong Catatan)
“Hodie Mihi Cras Tibi”
Orang-orang yang berbahasa Latin, mengenal sebuah adagium yang sangat bermakna, ialah “Hodie mihi cras tibi,” artinya “Hari ini saya, dan besok Anda.”
Inilah sebuah fakta riil di atas bumi maya, karena kita memang sering dilanda duka sebagai akibat dari peristiwa kematian.
Puisi
Hanya Seutas Kafan
Kemegahan
dan keagungan bagai hiasan belaka kala jiwamu dijemput kereta senja menuju gulita kelam
Kuasa serta pangkat
hanyalah sebabak sandiwara tak berujung pangkal
Jiwa letihmu kan kian meresah sepi dan engkau pun beranjak hanya dililiti seutas kafan fana
Fr. M. Christoforus, BHK
(Pada Sepotong Catatan)
Refleksi:
Kematian dan kehidupan adalah dua orang saudara kembar. Sang kematian telah mengajarkan kita tanpa kata dan bahasa, bahwa sekali kelak, pondok kita di bumi maya ini akan dibongkar musnah, dan kita tak lagi memiliki apa pun juga, selain seutas kafan fana.
Realitas Resahku Hari Ini
Hari ini, Sabtu, 9 Agustus 2025 pada pukul 08.00 pagi WIB, bersama sejumlah rekan, Pak Lurah setempat, Utusan dari pihak Kepolisian, serta Petugas makan di Kompleks Pemakaman Semampir, kota Kediri, Jatim, saya menyaksikan peristiwa pembongkaran makam dari seorang rekan seperjuangan kami, karena tulang-belulangnya akan dipindahkan ke sebuah Pemakaman di kota Malang, Jatim.
Pagi hari itu, kami bergegas menuju ke Pemakaman Semampir. Di saat itu, hatiku kian resah, karena aku mau tidak mau harus jadi salah seorang saksi dari peristiwa pembongkaran makam itu.
Suasana hening, tampak ratusan kubur turut hening. Mereka tampak seolah-olah turut bersedih atas sebuah kehilangan, karena seorang dari tetangga mereka, pada hari ini akan beralih tempat setelah dua puluh lima tahun berada bersama di Kompleks Pemakaman ini.
Apa saja yang Tersisa?
Antara rasa cemas dan gelisah, aku sempat mencermati, bahwa betapa lincahnya tangan-tangan dan jemari para penggali makam itu. Mereka mulai mengangkat dan menyeleksi dengan cermat antara gumpalan tanah hampa, dan potongan-potongan kain berwarna putih sebagai alas serta pelapis peti jenazah yang masih tampak sangat utuh.
Hal yang membuatku kian berdebar ialah tampak:
- Dua potong tulang paha yang berwarna antara keputihan dan kekuningan.
- Dua potong tungkai tangan.
- Sepasang gigi.
- Tengkorak kepala yang tampak sudah koyak dan terbelah.
- Dua buah kaus kaki serta dua buah kaus tangan yang tampak masih sangat utuh.
- Juga dua buah sol sepatu yang juga tampak utuh.
Pertanyaan-pertanyaan Abadi
Siapakah sesungguhnya manusia itu? Siapakah kita ini? Akhirnya, akan bagaimanakah nasib akhir kita sebagai kesudahannya kelak?
Ya, kita semua akan kembali jadi debu tanah belaka, hanya seonggok sampah fana, sunyi berserakan, seolah sudah tidak bermakna apa-apa lagi.
Bukankah sang kebijaksanaan telah mengajarkan, bahwa “Manusia itu berasal dari debu tanah, dan dia kelak akan kembali jadi debu tanah?”
Ya, sungguh, kita ini kelak hanya memiliki seutas kain kafan fana!
Kediri, 10 Agustus 2025

