“Bekerja untuk meraih sukses itu tidak dengan mulut, tapi dengan hati.” -Mas Redjo
Saya tidak komplain, protes, dan apalagi menyalahkan orang lain, ketika teman yang kerjanya banyak bicara, tapi mampu menyenangkan hati Bos (ABS) itu diberi fasilitas dari kantor, ketimbang mereka yang kompeten dan kinerjanya baik.
Saya tidak iri, merasa lebih baik dan lebih senior dari dia. Saya mahfum, karena rezeki setiap orang itu tidak sama.
Peristiwa aneh, tapi konyol itu juga dapat dilihat di lingkungan sekitar, apalagi di sosmed. Aneh, tapi nyata. Orang yang bicaranya ‘ngejeplak’, tidak becus bekerja, dan bahkan menimbulkan kegaduhan itu malah dipuji oleh Bosnya.
Saya juga tidak mempunyai domain untuk menilai dan atau menghakimi orang lain. Karena saya sendiri tidak mau dihakimi oleh mereka.
Alasan itu pula yang saya terapkan dalam hidup ini. Saya tidak mau mengurusi hal yang kontra produktif itu, karena saya tidak mempunyai kapabilitas meminta pelaku itu agar memperbaikinya.
Saya sadar-sesadarnya, mengurusi omongan orang itu tiada gunanya dan tiada habisnya. Bahkan capai sendiri.
Bagi saya, ketimbang mengurusi orang lain, lebih baik saya berubah sendiri, memperbaiki kinerja agar makin produktif, berkembang, dan maju.
Ketika tidak seiring sejalan dengan Bos lagi, saya memutuskan untuk mundur, pindah pekerjaan, atau membuka usaha kecil-kecilan, dan mandiri.
Ketika Bos meminta alasan saya berhenti dan pindah kerja, saya memberi yang baik-baik, tanpa menyinggung keburukan orang lain, karena hal itu berarti membuka aib saya sendiri.
Pesan saya kepada teman-teman yang hobi ‘membual’ dan membuat gaduh itu agar mawas diri dan sadar sebelum ditinggalkan serta dijauhi teman-temannya.
Untuk dipahami pula, bahwa “menyatu-padukan untuk bersinergi membangun itu teramat sulit, dibandingkan untuk merusak relasi dan mencerai-beraikannya!”
Mas Redjo

