“Iman bukan soal besar kecilnya, tapi soal berserah pada Dia yang menyelamatkan.” -HD
Allah Bapa adalah gunung batuku, tempat perlindunganku, dan penyelamatku. Dia yang melatih tanganku untuk bertempur dan hatiku untuk mengasihi. Dalam Dia, aku menemukan kekuatan dan merasa aman.
Seperti pemazmur, aku berseru: “Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku!”
Hari ini, Allah Bapa kembali bersabda: “Dengarlah, hai Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.”
Inilah awal dan dasar iman sejati, yakni mengasihi Allah sepenuhnya, mempercayai tanpa ragu, dan melekat kepada-Nya dengan segenap hati.
Namun kami mengakui, Tuhan, bahwa iman kami sering kali rapuh. Seperti para murid dalam Injil hari ini, kami berusaha bertindak, berdoa, dan melayani, tapi kami gagal. Saat kami bertanya, “Mengapa kami tidak mampu melakukannya?”
Engkau menjawab bukan dengan marah, tapi dengan kebenaran: “Karena imanmu kecil.”
Engkau juga membuka rahasia, bahwa iman sebesar biji sesawi pun dapat memindahkan gunung. Jadi mengapa kami goyah? Mungkin karena kasih kami setengah-setengah, kepercayaan kami terbatas, dan kami lupa, bahwa iman bukan soal performa, tapi penyerahan diri.
Ya Tuhan, tolong kami agar menerima iman sebagai anugerah, dan melatihnya setiap hari dalam doa, ketaatan, dan penyerahan. Jangan biarkan kami hidup hanya dengan melihat. Ajar kami berjalan dalam iman, dan berakar bukan pada perasaan atau hasil nyata, melainkan pada firman-Mu yang setia dan kasih-Mu yang tak pernah gagal.
Engkau senang saat kami meminta banyak, karena Engkau rindu memberi, bahkan lebih banyak lagi. Seperti yang dikatakan Putra-Mu kepada St. Faustina: “Jiwa-jiwa yang penuh kepercayaan jadi hiburan besar bagi-Ku… Aku senang, jika mereka meminta banyak …”
Hari ini kami meminta dengan berani: Teguhkan iman kami. Dalamkan kepercayaan kami. Sucikan hati kami. Juga ajarlah kami untuk mengasihi-Mu dengan segenap jiwa kami.
Jangan biarkan kami melupakan Engkau saat hidup terasa penuh, atau meragukan Engkau saat hidup terasa berat. Entah kami menghadapi gunung yang besar atau ketakutan yang halus, semoga kami tetap percaya: tiada yang mustahil bagi-Mu, ya, Allah!
Bapa, saat kami menjalani hari ini, ukirlah perintah-Mu dalam hati kami. Biarlah itu membimbing kata dan tindakan kami, membentuk rumah kami, dan menyertai kami dalam bangun dan tidur. Di atas segalanya, biarlah mata kami tetap tertuju kepada Yesus, Juru Selamat kami, kekuatan kami, dan nyanyian kami agar kami hidup dan bergerak di dalam Dia, dan melalui Dia memuliakan Nama-Mu.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

