Bukan karena setelah makan sambal, lalu lidahmu merasa kepedesan dan kata-katamu tidak bisa dikendalikan lagi. Bukan!
Pedas berkata-kata adalah muncul dari pribadi-pribadi yang suka merendahkan, mengejek, dan tidak terolah perasaannya. Biasanya, sudah tidak mengejutkan lagi, karena itu sudah melekat pada jatidirinya.
Ada yang bisa menyadari dan mengakuinya, tapi ada yang tidak pernah bisa menyadari dan tidak mampu untuk mengakuinya, bahwa itu adalah kelemahan dan kekurangannya.
Pedas dalam berkata-kata itu tidak bisa dihentikan begitu saja. Sebab, dibalik semuanya ada kebodohan, kedunguan, dan kekerasan hati. Ketika yang lain berbicara ini, dia maunya berbicara yang itu. Padahal yang dibicarakan menambah kedunguannya.
Mungkinkah, yang pedas berkata-kata itu akan menemukan jalan ke luarnya? Tergantung. Jika dia sadar, maka dia bisa berubah. Jika dia tahu, maka dia seharusnya malu. Jika dia mau bertobat dan memperbaiki dirinya, maka dia akan menemukan jalan hidup baru.
Saat saya berjumpa dengan dia yang suka berkata-kata pedas, saya minta untuk mencoba sambal “Bu Rudy” yang pedas itu, supaya dia tidak bisa berkata-kata dengan pedas lagi, tapi benar-benar kepedesan dan meminta penangkalnya. Ooo … tentu tidak semudah itu. Yang saya lakukan lebih dari itu, yaitu mendoakannya agar dia bisa memperbaiki diri, bagaimana caranya berkata-kata baik dan manis. Kata-kata baik dan yang manis itu buahnya dijamin manis.
Rm. Petrus Santoso SCJ

