Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Guru telah mengajarkan saya cara menjadi orang berguna dan setia kepada negara.”
(Yue Feri)
(Chinese Inspirative Stories)
Kisah Kesetiaan Tiada Tara
Ketika dunia pendidikan kita kini, justru terkesan kian morat-marit dan para ‘out put’ kita yang terkesan tidak beretika, amburadul, serta tidak beradab, maka saya mengajak kita semua untuk merenung serta merefleksikan sebuah kisah berupa relasi paling harmonis antara Guru dengan seorang muridnya di masa Dinasti Song (960-1279) dari negeri tirai bambu China.
Sungguh betapa unik, indah, dan bermakna serta sangat humanis kisah perjumpaan ini. Unik, karena sangat jarang terjadi peristiwa serupa ini, dan juga bermakna, justru dari balik peristiwa ini, terbetik sebuah pesan paling bermakna bagi kehidupan umat manusia.
Mengingat Kebaikan Guru
Setiap kali Guru Zhou Tong sedang mengajar para muridnya, tampak olehnya seorang anak laki-laki yang selalu setia mengikuti pengajarannya sekalipun hanya dari balik jendela, karena ia berada di luar kelas.
Sikap anak itu, Yue Fei yang bahkan rela menggunakan ranting kayu untuk menuliskan pengajaran Guru itu di tanah.
Menyaksikan keadaan yang mengharukan hati itu, maka tergerak hati sang Guru Zhou Tong, dan ia mengajak anak itu agar bersedia jadi muridnya. Gayung pun bersambut, karena tawaran itu disikapi sangat positif oleh Yue Fei. Karena dia anak orang miskin, dan orangtuanya tidak mampu membiayai sekolahnya.
Yue Fei anak yang cerdas dan sangat berbakat. Hal ini diketahui dari cara dia menyiapkan pelajarannya. Buku tulisnya selalu tampak rapi. Bahkan setiap lembar buku tulisnya selalu dibaginya ke dalam dua bagian. Sebagian untuk pelajaran sastra dan di bagian lainnya untuk catatan ilmu strategi keahlian memanah.
Berkat ketekunan dan belajar kerasnya, kelak ia dapat meraih gelar master di bidang ilmu keahlian memanah.
Sang Dewi keberuntungan memihaknya, karena ia akhirnya diangkat jadi seorang Jenderal di masa Dinasti Song.
Setelah ia jadi seorang Jenderal, apa yang disikapinya terhadap Guru pujaannya yang telah purna bakti itu?
Dalam setiap bulan, antara tanggal 1 dan 15, dia selalu mengunjungi Gurunya. Setibanya di depan rumah Gurunya, ia selalu menghormatinya dengan cara melezatkan tiga buah anak panah ke angkasa sambil berkata, “Guru telah mengajarkan saya, bagaimana caranya agar jadi orang berguna dan setia kepada negara.”
Hal yang tidak dilupakannya ialah, ketika Guru pujaannya itu wafat, maka ia mengadakan upacara besar layaknya kematian seorang pahlawan.
(Chinese Inspirative Stories).
Misteri Mendidik Anak Manusia
Bukanlah sang kebijaksanaan telah mengajarkan, bahwa relasi paling indah dan tulus di bumi ini, adalah keharmonisan relasi antara sang Guru dan muridnya. Guru sebagai pembawa obor dan murid sebagai penerima obor kehidupan.
Bagaimana dengan realitas di negeri kita, bahwa sering kali para ‘out put’ dari lembaga pendidikan kita justru ibarat jauh panggang dari api. Artinya, para tamatan dari taman pendidikan kita, justru terkesan bersikap biadab, antisosial, intoleran, dan tidak tahu berterima kasih. Ya, singkat kata, bagai pendidikan yang akhirnya ‘menghasilkan air mata.’
Apa misterinya, agar kelak para ‘out put’ kita dapat jadi pribadi-pribadi yang beradab?
Ya, didik mereka dengan cinta kasih dan ketulusan sejati. Juga hargailah setiap keunikan dari sikap mereka. Selebihnya, berikan rasa nyaman dan menghargai semua usaha serta jerih paya mereka.
Kediri, 9 Agustus 2025

