Pada dasarnya, siapa pun boleh menikmati kesejahteraan. Tapi hidup ini tidak hanya soal boleh atau tak boleh. Karena selain asas ‘kebolehan’ itu ada namanya asas kepatutan atau kepantasan yang perlu senantiasa kita perhatikan.
Ada standar kepatutan yang tidak boleh dilanggar, itu namanya etika. Falsafah Jawa ‘bener’ saja itu tidak cukup, tapi harus ‘pener’, relevan dalam hal ini.
Dalam konteks hidup beriman, yang ‘pener’ itu bisa diwujudkan dalam berbagi berkah apa pun dan berapa pun dengan mereka yang berkekurangan. ‘Ojo dipangan dhewe’, egois. Tapi demi kepatutan!
Salam sehat.
Jlitheng

