“Dipimpin oleh tangan-Nya, kita dimurnikan dalam kasih yang setia.” -HD
“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.”
Jujur, sabda Yesus ini membuat kami ingin mundur. Menyangkal diri? Memikul salib? Kehilangan nyawa? Rasanya teramat berat.
Allah Bapa dan Yesus itu bukan pribadi yang patut dicurigai, melainkan yang harus dipercaya sepenuh hati.
Seperti yang dikisahkan Musa dalam Kitab Ulangan, Allah Bapa yang melakukan tanda-tanda itu demi membebaskan umat-Nya. Ia memimpin mereka dengan tangan-Nya, ke luar dari perbudakan menuju tanah yang berlimpah susu dan madu.
Allah Bapa itu setia. Jika kami dipanggil untuk meninggalkan kenyamanan lama, menyerahkan sesuatu yang dianggap penting demi mengikuti Yesus agar kita tidak ragu atau takut, tapi mantap hati.
Kami ingin percaya seperti umat-Nya dahulu. Kami tahu, bahwa salib itu bukan akhir dari segalanya. Karena di balik salib itu ada kehidupan sejati.
Yesus bertanya, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tapi kehilangan nyawanya?”
Dunia bisa memberi kekayaan, jabatan, dan kenyamanan. Tapi semua itu rapuh. Bila hidup ini hanya dipenuhi hal lahiriah, kami akan kehilangan makna sejati, kehilangan kasih sejati.
Tuhan Yesus tidak menuntut yang tidak kami punyai. Mungkin Tuhan memberi waktu pada kami untuk berintimasi dengan-Nya, sebelum kami sibuk beraktivitas. Mungkin Dia meminta kami untuk menahan lidah dari gosip, dan memakai waktu kami untuk mendengarkan teman kerja yang sedang susah.
Dia hanya minta yang kami miliki: hati yang mau mengikuti dan percaya.
Tolong kami, ya Bapa, untuk melepaskan segala yang menjauhkan kami dari-Mu, dan bersatu dengan Yesus, Putra-Mu dalam kasih dan kerahiman-Nya. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

