“Hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah berkeras hati.”
Yesus berdiri di hadapan para murid-Nya dan bertanya:
“Menurut kalian, siapakah Aku ini?”
Bukan sekadar ujian pengetahuan,
melainkan undangan untuk percaya. Bukan sekadar jawaban yang benar, melainkan relasi yang lahir dari penyataan-Nya sendiri.
Seperti umat-Mu di padang gurun Meriba yang bersungut-sungut dan menguji Engkau, demikian pula hati kami sering mengeras,melupakan kehadiran-Mu, menolak suara-Mu.
Mereka melihat air kel uar dari batu,
namun lupa akan Batu Keselamatan mereka.
Ampunilah kami, ya Tuhan, bila kami mengandalkan logika dan ketakutan, bukan dengan iman.
Petrus menjawab, bukan karena kepandaian, melainkan karena keyakinan yang datang dari atas:
“Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup.”
Engkau, Yesus, memuji dia, bukan karena logikanya, melainkan karena Bapa yang menyatakan kebenaran itu kepadanya. Iman sejati itu bukan hasil usaha pikiran, melainkan anugerah dari Surga.
Engkau menyebut Simon sebagai “Batu Karang.” Bukan karena kekuatannya, melainkan karena penyerahan dirinya.
Seperti Abraham jadi batu, karena percaya, demikian pula Petrus jadi batu, karena mengenal Engkau.
Iman adalah dasar, dan dari dasar itulah Engkau membangun umat bagi-Mu.
Namun Petrus pernah tersandung, ketika menolak salib, ia bukan batu karang, melainkan batu sandungan.
Yesus dengan kasih mengoreksi, dan berkata: “Enyahlah, Iblis!”
Ya Tuhan, betapa sering niat baik kami justru menentang rencana-Mu yang lebih mulia. Kami menyusun rencana tanpa berdoa; memberi nasihat tanpa mendengarkan suara-Mu; ingin memimpin tanpa terlebih dahulu mengikuti-Mu.
Ajarlah kami, ya Bapa, untuk berpikir seperti Engkau berpikir, melihat penderitaan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai jalan kasih.
Berikan kami Roh Kudus agar kami tidak hanya mempunyai wawasan,
tapi juga kebijaksanaan surgawi.
Tidak hanya semangat, tapi kerendahan hati. Tidak hanya keberanian, tapi penyerahan diri.
Semoga kami bukan hanya mengucapkan pengakuan Petrus,
tapi membangun hidup kami di atas Batu Karang sejati, yaitu Kristus.
Bila kami jatuh, biarlah belas kasih-Mu mengangkat kami kembali,
supaya kami terus berjalan di belakang Yesus; belajar mengasihi seperti Dia; dan mengikuti Dia ke mana pun Ia memimpin. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

