“Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Tapi dengan mengasihi kita menyembuhkan segala luka itu.” -Mas Redjo
Gara-gara cinta uang, banyak orang khilaf, lupa diri, dan bahkan menjual nama baik, hingga kehormatan diri itu tiada berharga lagi!
Untuk kesekian kali pengalaman pahit itu terjadi tanpa dikehendaki. Bisa jadi saya ini ceroboh, lengah, dan bodoh, sehingga sering kali dikhianati teman sendiri.
Awalnya adalah mitra usaha. Kita bekerja sama. Saya membantu teman mencarikan limbah plastik, karena kebetulan saya mempunyai beberapa kenalan pabrik plastik. Istilahnya, saya jadi perantara atau calo. Setiap kali terjadi transaksi, saya membayar tunai barang itu untuk menalangi teman. Peristiwa selanjutnya adalah, ketika pabrik dan teman itu menelikung saya untuk ditinggalkan, karena orang pabrik bermain dan ingin untung besar.
Begitu pula dengan pabrik kue yang saya bantu pemodalan, pengadaan bahan, dan pemasarannya. Saya ditinggalkan, karena hasil komisi saya dinilai terlalu besar. Bahkan ada juga pabrik plastik yang main serobot pelanggan, meskipun saya mencetak di pabriknya. Pabrik itu tidak mempunyai etika bisnis.
Siapa dan di mana salahnya? Saya tidak mau menilai, menyalahkan, dan apalagi menghakimi. Karena saya sadar, bahwa “akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Tim 6: 10).
Begitu juga yang terjadi di sekitar kita, seperti dialami pelanggan umkm yang industri kripik singkong, bawang goreng, dan sebagainya. Ketika singkong, bawang, kacang tanah … itu jadi langka dan mahal, ketika dikuasai pemodal besar.
Industri rumahan itu tidak kebagian bahan, karena dimonopoli pemodal. Para petani itu dikontrak beberapa tahun ke depan dan dibayar tunai. Siapa yang tidak tergiur uang? Bagaimana dengan perlindungan usaha rumahan akan kesediaan bahan dan dengan kelangsungan kerja para karyawannya?
Sekali lagi, saya tidak mau menilai dan menghakimi hal itu. Saya juga tidak berhak menanggapi, kecuali menghimbau pemangku kebijakan untuk melindungi industri rumahan agar tersedia bahan untuk produksi dan kesediaan pekerjaan.
Bagi saya pribadi, dikhianati teman demi uang itu tragis. Kepercayaan saya dirobek-robeknya itu sulit diperbaiki, dan bahkan menutup rezekinya sendiri.
Saya tidak membenci teman yang khilaf, karena uang dan ingin cepat kaya. Dengan memberi maaf dan mengasihi mereka itu, saya belajar agar tidak hilang kepercayaan pada mitra usaha yang lain.
Berani berhikmat, saya belajar hal-hal baru untuk hidup yang makin baik, mapan, dan bermakna.
Mas Redjo

