Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Segala sesuatu tentu memiliki sebuah finalisasi.”
(Didakrika Hidup Sadar)
Tujuan Hidup
“Apakah tujuan akhir dari hidupmu di dunia ini?” Demikian sebuah pertanyaan menantang yang sering kali dilontarkan, tatkala manusia sedang merefleksikan hidupnya.
Tentu dari dan di balik pertanyaan ini, akan ada aneka jawaban yang sesuai dengan penghayatan serta kesadaran dari setiap orang, bukan?
Sungguh amat baik dan benar, jika segala sesuatu di dunia ini, memang memiliki alasan dan tujuan tertentu. Bukankah Anda dilahirkan ke atas bumi maya ini juga memiliki tujuan? Bukankah anak-anak kita bersekolah pun bertujuan? Berolah raga, menikah, bernyanyi, berdoa, dan bekerja keras justru juga bertujuan?
Tujuan Hidup Bersifat Sementara dan Tujuan Hidup Bersifat Kekal
Setidak-tidaknya terdapat dua buah tujuan hidup dari setiap aktivitas manusia di atas dunia ini. Antara lain:
- Tujuan hidup yang bersifat duniawi, artinya tujuan hidup yang ingin diraih demi kebahagiaan hidup di atas bumi ini. Ketika Anda bersekolah dan saat Anda berolah raga, misalnya, bukankah kedua aktivitas itu demi kesuksesan hidup dan kesehatan tubuh serta prestasi? Inilah yang disebut tujuan hidup yang bersifat sementara.
- Tujuan hidup yang bersifar rohani dan kekal, artinya aktivitas yang dilakukan demi meraih tujuan keabadian. Semisal, Anda berdoa demi perdamaian dunia. Atau Anda berpuasa dan bermati raga demi mengendalikan keinginan jasmani serta memberikan perhatian pada hal-hal kerohanian. Inilah yang disebut tujuan hidup yang bersifat kekal.
Amanat dari Sang Guru Keabadian
- “Carilah dulu Kerajaan Surga, maka yang lain akan ditambahkan juga kepadamu.” Inilah sabda Yesus Kristus, Sang Guru Kehidupan. Artinya, Yesus memohon, agar kita giat mengumpulkan harta Surgawi dan bukan harta duniawi. Karena harta duniawi akan dimakan ngengat.
- Juga pada kesempatan yang lain, Yesus bersabda, “Di mana hartamu berada, di situ pula hatimu akan berada.” Artinya, Yesus tahu, bahwa harta duniawi itu justru tidak membahagiakan manusia dan juga tidak bersifat kekal.
Tahu tapi Tidak Sanggup
Sejujurnya, bahwa manusia itu tahu dan memahami yang Tuhan maksudkan itu. Tapi di sisi yang lain, justru betapa kuatnya keinginan dan kelekatan hati manusia akan harta duniawi itu.
Manusia itu ternyata masih sangat kuat dan terikat erat dengan kepuasan akan harta duniawi ini. Dalam konteks ini, bahwa manusia itu akan membusungkan dadanya, karena prestasi dan harta duniawi yang dikumpulkannya itu. Maka, Tuhan bersabda, bahwa “Di mana hartamu berada, di situ pula hatimu akan berada.”
Dilema Manusia
Sejatinya inilah dilema laten manusia, yakni nafsu untuk mengumpulkan harta duniawi dan sebuah nama besar.
Jadi, manusia adalah makhluk yang doyan untuk membanggakan diri, karena kelimpahan harta duniawi yang dimilikinya.
Konklusi
Jika memang demikian keadaannya, maka dapat dikonklusikan, bahwa makhluk manusia adalah ciptaan yang tidak mampu meraih kebahagiaan sebagai tujuan akhir dari kehidupannya.
Kediri, 5 Agustus 2025

