“Dia memberi bukan sekadar cukup, melainkan berlimpah untuk setiap hati yang lapar.”
Ketika hati kami letih, dan jiwa kami lapar akan sesuatu yang lebih dari dunia ini, Allah kembali menyatakan diri sebagai Dia yang melihat, mendengar, memberi makan, dan yang tetap tinggal bersama kami.
Putra-Nya, Yesus menarik diri untuk menyendiri, setelah mendengar kabar duka tentang Yohanes Pembaptis. Tapi di tengah duka itu, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ketika orang banyak mengikuti-Nya, Ia tidak mengusir mereka. Ia menyambut, menyembuhkan luka-luka, mendengarkan jeritan hati, dan tetap tinggal bersama mereka hingga senja.
Para murid-Nya melihat kebutuhan orang banyak dan mengusulkan jalan ke luar yang wajar: menyuruh mereka pulang agar bisa mencari makan. Tapi Yesus, penuh hikmat Ilahi, berkata lain: “Kamu harus memberi mereka makan.”
Tantangan besar, ya Bapa. Murid-murid tentu bingung, seperti Musa yang berseru dalam kelelahan, “Aku tidak sanggup memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini seorang diri.” Namun Tuhan tidak pernah meminta kami memikul beban itu sendiri. Dia hanya meminta yang kami punyai, yakni lima roti, dua ikan. Hati yang lelah, doa yang singkat, iman yang kecil. Ketika kami mempersembahkan itu ke dalam tangan-Nya, Dia memberkati, memecah, dan menggandakannya, secara berlimpah.
Allah Bapa mengajar kami, bahwa belas kasih bukan hanya perasaan, tapi tindakan. Mukjizat itu terjadi, ketika kami berani memberi dari kekurangan kami, dan percaya, bahwa Allah yang akan menyempurnakannya. Pemazmur meneguhkan hati kami: “Aku memberi mereka gandum terbaik sebagai makanan, dan dengan madu dari gunung batu Aku menyenangkan mereka.”
Tuhan Yesus adalah Roti Hidup.
Engkau mengenyangkan kami, bukan hanya tubuh saja, melainkan jiwa kami juga. Dalam setiap Ekaristi, Engkau memberi diri-Mu bagi kami. Dalam setiap doa, Engkau mendengarkan kami sepenuhnya. Dalam setiap tindakan kasih, Engkau mengundang kami untuk ambil bagian dalam karya kasih-Mu.
Maka, jadikan kami seperti para murid-Mu, bukan yang sempurna dan bukan serba mampu, melainkan bersedia untuk memberi kami punyai dan mengasihi, bahkan di saat lelah. Bersedia percaya, bahkan ketika yang kami miliki terasa terlalu sedikit.
Engkau tidak pernah menolak orang yang lapar dan tidak tergesa menghadapi hati yang remuk. Ajari kami untuk jadi seperti Engkau, ya Yesus yang penuh belas kasih, murah hati, dan lembut terhadap siapa pun yang datang menghampiri.
Saat kami merasa seperti Musa, terlalu lelah oleh beban orang lain, ingatkanlah kami, bahwa Engkaulah Gembala Sejati, tempat istirahat kami yang sejati, dan Allah yang memikul kami semua.
Kami memuji-Mu, Tuhan atas kerahiman-Mu yang berlimpah. Terima kasih, karena Engkau memanggil kami, bukan hanya untuk diberi makan, melainkan untuk jadi roti bagi sesama. Dalam kasih, dalam pelayanan, dan dalam iman. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

