Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pergilah Aku pun tidak menghukum engkau.”
(Yesus Kristus)
Dunia yang Meneduhkan
Sungguh betapa teduhnya hati seorang manusia, jika ia sempat mendengar sebuah ucapan yang bersifat “membebaskan, tidak mengadili, dan sarat dengan nuansa pengampunan.”
Apalagi, jika lontaran spontan itu diucapkan di saat dunia kita yang bersikap serba bringas dan nanar liar. Maka, betapa girang dan bahagianya hati seorang manusia. Seketika itu akan sangat terasa, bahwa dunia ini seolah-olah sangat memahami dan memihak kita. Ya, itulah kondisi batin kita, kala seketika kita menerima pengampunan. Sebuah dunia yang sungguh meneduhkan.
Ketika di dalam lingkup masyarakat kita sering terjadi aksi-aksi brutal, berupa kekerasan verbal dan maraknya tindakan biarab, maka kata-kata pengampunan itu sungguh telah mengubah segala-galanya.
Figur yang Mudah Mengampuni
“Aku pun tidak menghukum engkau, maka pergilah dengan selamat,” demikian sebuah ucapan yang terlontar spontan dari mulut emas Yesus Kristus. Dia yang suci, adil, dan bijaksana, namun justru sudi untuk memaafkan kesalahan sesama-Nya.
Hai, Siapakah Engkau?
“Sesungguhnya, siapakah engkau, sehingga sangat sulit untuk memaafkan? Bukankah engkau sendiri sudah memiliki banyak kesalahan dan dosa?”
“Selumbar di mata saudaramu, mudah engkau lihat, tapi balok di matamu, tidak engkau lihat.” Inilah sebuah statemen paling ironis yang sengaja dilemparkan oleh Yesus kepada kita semua.
“Mulutmu itu adalah harimaumu!”
Inilah sebuah ungkapan yang bermakna sangat keras di dalam budaya bangsa kita. Bahwa organ mulut kita, justru sering kali telah jadi batu sandungan bagi kenyamanan hidup bermasyatakat. Tuturan kasar yang kita lontarkan ini, sering kali justru jadi sarana pembunuh paling kejam bagi sesama manusia.
Mari Budayakan Tuturan yang Meneduhkan
Kebijaksanaan seorang pribadi, biasanya akan terekspresi secara spontan, antara lain lewat tuturannya. Maka, tidak pelak kehadirannya, justru akan terasa sejuk dan menenangkan hati orang yang berada di sekitarnya. Inilah sosok pribadi yang berahmat yang diidam-idamkan oleh sesama.
Marilah kita budayakan cara-cara hidup bahagia, lewat aneka tuturan yang meneduhkan hati dan sanggup membangun serta membahagiakan hati sesama!
“Kamulah sahabat terbaikku, di sepanjang hayatku!”
Kediri, 2 Agustus 2025

