Berharap mampu menyenangkan semua orang itu adalah sesuatu yang mustahil. Sebab penilaian setiap orang sangat bergantung pada pengalaman, pandangan, dan pemikiran yang berbeda satu sama lain.
Jika ada sebagian orang yang mengkritik, menolak kehadiran, dan karya kita itu anggaplah sebagai bagian dari kehidupan yang harus diterima. Dari sekian banyak kritik dan penolakan, tidak ada yang lebih terasa keras daripada penolakan dari kerabat dan tetangga yang dikenal sejak masa kecil. Hal ini yang terjadi dengan Yesus, ketika la kembali ke tempat asal-Nya, Nazaret.
Ketika Yesus mengajar di rumah ibadat di Nazaret, mereka takjub atas kepandaian-Nya dalam menjelaskan Kitab Suci. Mereka tidak pernah menyangka, Yesus yang adalah anak tukang kayu itu, sekarang telah jadi seorang Rabi (guru) dan memiliki murid-murid. Anehnya, bukannya bangga akan Yesus yang jadi orang hebat, mereka justru menolak Dia, karena latar belakang-Nya. la akhirnya tidak melakukan mukjizat di tengah mereka, karena hati dan pikiran mereka sudah tertutup kepada-Nya.
Jika sikap iri hati, benci, dan tidak mau menerima pencapaian yang diraih orang lain sudah menguasai seseorang, sebaik apa pun perbuatan yang dilakukan, tetap tidak akan diterima. Sebaliknya, sikap rendah hati akan membuat orang mengasihi orang lain, dan mukjizat dari Allah akan terjadi.
Apakah kita seperti orang-orang Nazaret yang tidak mau menerima kehadiran orang lain, karena asal-usul yang sederhana, suku dan ras yang berbeda? Ataukah kita memiliki hati yang mau membuka diri terhadap siapa saja yang membawa keselamatan dari Allah?
“Tuhan, Engkau adalah pemenuhan harapan kami. Penuhilah hati kami dengan semangat kerendahan hati dan nyalakanlah cinta serta semangat di hati kami untuk setia kepadaMu. Amin.”
Ziarah Batin

