“Tuhan berbicara pada waktu yang ditentukan-Nya. Apakah kita mendengarkan, atau menyaring suara-Nya lewat aneka prasangka?”
Yesus pulang ke Nazareth, tempat asalnya. Ia membawa kebenaran, hikmat, dan kuasa Ilahi. Orang-orang terkagum, tapi hanya sesaat. Hati mereka cepat diliputi keraguan dan iri: “Bukankah Ia ini anak tukang kayu?”
Mereka menolak, bukan karena kekurangan bukti, melainkan mereka merasa sudah tahu segalanya. Mereka tidak percaya, bahwa kemuliaan itu bisa datang dari yang mereka anggap biasa-biasa saja.
Bukankah kami juga sering bersikap seperti mereka?
Yesus berkata, “Seorang Nabi tidak dihormati di tempat asalnya sendiri…” Tapi Yesus bukan sekadar Nabi. Melainkan Dia adalah Sabda yang jadi manusia, Kebenaran Ilahi yang memiliki wajah. Saat Ia berbicara, bukan hanya pengajaran yang disampaikan, melainkan kehendak-Nya terlaksana. Ia berseru di depan kubur Lazarus, dan orang mati itu bangkit. Karena sabda-Nya adalah hidup.
Allah Bapa menetapkan hari-hari raya sebagai “waktu yang ditentukan Tuhan,” saat perjanjian diperbarui dan karya-Nya dikenang. Bukan perayaan luar yang Ia cari—melainkan hati yang mau mendengar. Seperti firman-Nya dalam Mazmur: “Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku!”
Ampuni kami, Tuhan, yang sering hanya mau menerima Yesus, ketika Ia memberkati, tapi menolak-Nya saat Ia menantang kenyamanan kami.
Kami sering berkata dalam hati:
“Tunggu dulu… siapa Engkau/ mengapa Engkau sampai menuntut ini dari kami?”
Engkau tidak pernah menyerah. Dalam kesabaran-Mu, Engkau terus menunjukkan, bahwa Yesus bukan hanya Sang Pemberi, karena Dia sendiri adalah Anugerah Sejati, yang memberi diri-Nya dalam Sabda dan Sakramen. Dialah yang membentuk, menuntun, dan menyempurnakan rencana-Mu atas hidup kami.
Ya, Bapa ubahlah hati kami agar rendah hati, bukan keras kepala.
Buka mata kami agar mengenali Yesus bukan hanya saat Ia menghibur, tapi juga saat Ia mengoreksi dan membentuk.
Saat kami menerima Tubuh dan Darah-Nya, sadarkan kami:
Inilah Sabda yang jadi daging. Inilah cinta-Mu yang tercurah.
Katakan sepatah kata saja, ya Tuhan, … maka saya akan sembuh.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

