“Pengalaman iman itu tidak harus datang dari peristiwa dahsyat dan dari orang hebat, tapi dari keterbukaan hati yang haus belas kasih Tuhan.” -Mas Redjo
…
Pemandangan seorang Ibu dan pemuda yang sedang menyapu dan mengepel selasar Gereja itu menggedor pintu sadar saya, sehingga jadi malu hati.
Mereka bukan petugas kebersihan, melainkan relawan petugas ‘porta sancta’ yang bersiap menyambut peziarah yang hendak berkunjung untuk berdoa di Gereja.
Alasan mereka bebersih Gereja itu adalah, karena mereka ingin jadi tuan rumah yang baik menyambut para peziarah. Supaya tamu-tamu itu merasa nyaman di Gereja yang bersih dan tenang, sehingga makin khidmat dalam berdoa.
Peduli, merasa memiliki Gereja, dan bertanggung jawab itu kesan saya pada mereka yang bertugas ‘porta sancta’ itu. Sekaligus menggedor kesadaran saya yang suka abai, ketika ‘sowan Gusti’.
Dari pengalaman Ibu dan pemuda yang bebersih itu saya diingatkan dan disadarkan untuk menyiapkan hati, jika hendak bersembayang atau mengikuti Ekaristi Kudus itu dengan baik.
Semula, jika saya berpakaian asal-asalan, kini saya memantaskan diri dengan berpakaian bersih, rapi, sopan. Prinsip semula saya yang penting hati bersih itu cerminkan keakuan dan sombong. Lalu saya ganti untuk merendah di hadapan Tuhan, memiskinkan diri untuk rendah hati.
Jika semula saya sering datang terlambat mengikuti Ekaristi Kudus, dan atau pulang lebih dulu. Karena ada penting atau janji bertemu rekan bisnis itu tidak saya lakukan lagi. Saya belajar disiplin membiasakan diri datang lebih awal ke Gereja, menyiapkan hati, dan doa hening
Saya juga belajar dari pribadi yang rendah hati yang melayani di Gereja. Sehingga kebiasaan saya yang kurang baik, karena senang bermain hp di dalam Gereja itu saya buang jauh. Bahkan, jika tidak ada acara dan tidak bepergian bersama keluarga, hp itu saya tinggal di rumah.
Saya sadar sesadarnya, untuk berubah ke arah yang lebih baik itu tidak datang dengan sendirinya. Tapi semua itu anugerah Tuhan yang menyapa hati saya, kau, dan hati kita yang haus jamahan kasih-Nya.
Pembelajaran kasih-Nya itu tidak datang dari peristiwa yang dahsyat dan dari orang hebat. Tapi bisa melalui peristiwa kecil dan remeh temeh dari pribadi sederhana yang rendah hati.
Semangat perubahan itu anugerah Tuhan agar kita makin rendah hati dan hidup berkenan bagi kemuliaan-Nya.
Berkah Dalem.
…
Mas Redjo

