“Jangan ajari anak-anak itu untuk membenci orang lain, tapi ajari untuk mengasihi, karena mereka adalah anak terang.” -Mas Redjo
…
Luka di hati itu makin menganga perih dan nyeri, ketika peristiwa intoleran itu kembali merebak dan negara seperti tidak hadir…
“Adakah kebencian itu saya ajarkan juga pada anakku?”
Saya menarik nafas panjang. Luka itu makin menganga perih. Teringat kembali kata-kata sahabat SR.
Meski orang membenci, tapi kita harus mengasihi, karena mereka tidak tahu yang diperbuat. Tuhan adalah kasih agar kita yang percaya dan mengimani-Nya itu mengasihi sesama dan murah hati.
Kini anak saya mengajak menengok Neneknya yang sedang sakit. Sejak pisah rumah lima bulan lalu, saya belum sekali pun pulang dengan alasan sibuk bekerja. Memang anak semata wayang saya dekat dengan
Neneknya. Apalagi Neneknya sedang sakit.
“Ibu tetaplah Ibu. Meski Ibu salah, kita jangan memarahinya. Ibu itu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita.”
Faktanya, sejak dulu Ibu memilih diam, tidak bereaksi dengan sikap Bapak dan saudara lain yang sering menyindir saya. Ibu lemah terhadap Bapak. Saya seperti tidak dianggap dan dibedakan. Padahal saya memilih bekerja lepas itu juga ingin menemani Ibu yang sakit. Saya mengalahkan keluarga sendiri agar waktu saya lebih banyak untuk mengurus Ibu. Tapi disalahpahami…
Hal itu yang membuat saya memilih ke luar dari rumah, dan mandiri.
Lebih konyol lagi, ketika Bapak dan Ibu berbarengan mondok di RS, kabar itu datang tidak dari keluarga dekat, tapi dari tetangga! Bapak drop, bisa jadi kelelahan dan stres. Hal itu yang membuat jiwa saya terpukul. Saya seperti dilupakan, dan bisa jadi dianggap anak yang hilang, atau dibuang…
“Ketika emosi, kita melihat orang lain itu selalu buruk dan dipenuhi kesalahan. Hati ini tertutup rapat, sehingga kita tidak melihat hikmat-Nya. Bisa jadi keluargamu tidak terpikir untuk mengabarimu, karena kemrungsung, bingung,” kata SR siang tadi yang mampir ke rumah, sepulang dari kantor. Ia mengajak saya bezoek, tapi tidak saya tanggapi.
“Kau harus berjiwa besar dan mengalah, Bro,” SR mengingatkan sambil menepuk bahu saya.
Saya menunduk. Sekali lagi saya menarik nafas panjang. Dada yang menyesak itu perlahan, tapi pasti terasa longgar. Pengalaman sepupu SR itu seperti mengingatkan saya agar penyesalan itu tidak datang terlambat, sehingga menghantui hidup kita. Ketika orang yang kita sayangi itu berpulang, menghadap Sang Pencipta tanpa didampingi.
“Bapak ke RS dulu, ya, Le. Nengok Nenek. Besok pagi kita bertiga pergi sama Ibu,” janji saya. Anak saya, E memandang ke arah Ibunya yang manggut mengiyakan.
Saya mengelus kepala E, lalu menyalakan motor ke RS.
…
Mas Redjo

