“Meski kita gagal, Allah tetap menabur harapan dalam hati kita.”
Kerajaan Allah hadir seperti biji sesawi: kecil, senyap, seolah tidak berarti, tapi menyimpan kuasa untuk mengubah segalanya.
Yesus menunjukkan, bahwa karya besar Allah sering berawal dari hal-hal tersembunyi, dari hati yang hening dan bersedia. Allah tidak pernah berhenti menabur dan tetap percaya, meski tanahnya keras atau berbatu. Bahkan ketika kami gagal sekali pun.
Begitu pula saat Musa naik ke gunung untuk berjumpa dengan Allah, umat jadi gelisah. Mereka rindu sesuatu yang nyata, yang bisa disentuh dan dilihat. Maka mereka berbalik dan membuat anak lembu emas, menukar kehadiran Allah yang hidup dengan berhala yang palsu.
Tuhan, betapa sering kami seperti itu. Saat Engkau terasa jauh, kami mencari rasa aman dalam hal-hal yang semu dan dapat kami kendalikan.
Di tengah pemberontakan umatnya itu, Allah membangkitkan Musa sebagai pendoa syafaat, yang berdiri di antara-Mu dan umat, memohon belas kasihan. Dalam kasihnya yang berani, kami menangkap bayangan Kristus, yang kelak akan berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka…”
Terima kasih, Bapa, karena tidak meninggalkan kami, ketika jatuh. Terima kasih untuk kerahiman-Mu yang lebih dalam dari kegagalan kami.
Engkau bisa saja memulai lagi dari awal, tapi Engkau tetap memilih berjalan bersama umat-Mu. Karena kasih-Mu setia, sabar, dan tidak berkesudahan. Bahkan hari ini, Engkau masih mengundang kami untuk ambil bagian dalam pertumbuhan Kerajaan-Mu. Bukan karena Engkau membutuhkan kami, melainkan karena melibatkan kami adalah demi kebaikan bagi kami sendiri. Ketika Engkau mengajak kami untuk menanam, membangun, atau berkorban, itu bukan beban, tapi rahmat. Di sanalah Engkau membentuk hati kami dan mendekatkan kami pada-Mu.
Hari ini kami berdoa:
Jadikanlah hidup kami tanah yang subur. Ajarlah kami tetap setia, meski Engkau terasa diam. Tanamkan dalam hati kami kesediaan untuk berkata “ya,” bukan demi hasil, tapi karena percaya.
Bila kami jatuh, bangkitkanlah kami kembali untuk bersandar pada Kristus, Musa baru yang kekal, Pengantara yang setia.
Kami mohon semua ini dalam nama Yesus Kristus,
Benih, Ragi, dan Kerahiman yang ditanamkan dalam hati kami,
Dialah Tuhan kami, kini dan selamanya.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

