Oleh: Fr. M. Chritoforus, BHK
“Rasa malu adalah suatu perasaan yang sangat normal dan alamiah. Namun ada orang yang sering kali bertindak melampaui batas wajar, sehingga tindakannya itu pun
dipertanyakan.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Manusia itu Makhluk Sosial
Sebagai makhluk sosial, seorang manusia secara personal selalu terdorong untuk bergaul akrab dengan sesamanya. Dalam konteks ini, biasanya orang tidak memandang siapakah orang itu, dari mana asal usulnya, atau apa pangkat dan kedudukan sosialnya dalam sebuah masyarakat. Karena bukankah sebuah pergaulan adalah sebuah relasi yang sangat personal sifatnya?
Namun sering kali, di dalam relasi yang sangat personal dan bahkan sudah sangat akrab itu, dapat saja terjadi sesuatu, berupa sikap atau tindakan yang dirasakan sudah berada di luar batas wajar oleh sahabatnya. Dari balik kondisi relasi psikologis yang mulai retak itu, maka otomatis relasi keduanya akan segera merenggang.
Keaslian Seseorang akan Muncul Seketika
Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak,” demikian pula di dalam sebuah relasi manusiawi, hal itu dapat saja terjadi. Biasanya kondisi itu dapat dipicu oleh sahabat yang bertindak dan bersikap sudah dikategorikan di luar kontrol serta di luar batas wajar. Entah itu lewat tuturan, atau janji-janji yang diingkari, kebohongan yang mulai terbongkar, atau berupa guyonan yang tidak pantas.
In Cauda Venenum est
Ada sebuah adagium berbahasa Latin, “In cauda venenum est,” artinya “di ekor atau di ujungnya akan ada racun.” Hal ini sesungguhnya mau mendeskripsikan, bahwa pada akhirnya, sebuah relasi harmonis akan berakhir dengan keretakan juga. Dalam kondisi pergaulan yang mulai retak ini, orang biasanya akan melontarkan pernyataan, “Wah, sepertinya keaslian dari keduanya mulai muncul ke permukaan.”
Di Manakah Urat Malumu?
Statesman ‘di manakah urat malumu,’ biasanya dilontarkan secara sangat spontan di saat seseorang sedang merasa sangat kecewa terhadap seseorang sebagai akibat dari kecerobohannya di dalam bersikap. Bahkan kondisi ini dapat dianggap sebagai sebuah aib di dalam sebuah relasi pergaulan.
Secara sadis dan sarkastis juga diucapkan, “Apakah sudah putus urat malumu?” Sungguh sadis dan mengerikan statemen ini. Anda dapat membayangkan, betapa hancurnya sebuah relasi harmonis yang telah dibangun selama ini.
Sang bijaksanawan pernah berucap, bahwa, “Apa pun dapat terjadi di atas muka bumi ini. Kawan yang seketika dapat berubah jadi lawan, dan bahkan lawan seketika dapat berubah jadi kawan.” Sungguh, di permukaan ceper datar bumi ini, tidak ada yang abadi.
Amanat Agung bagi Kita
Sungguh benar, bahwa di dunia ini, apa saja dapat terjadi. Inilah sebuah pembuktian hidup, bahwa segala sesuatu tidaklah abadi, karena toh akan ada saatnya, bahwa semuanya itu akan segera berakhir. Maka, hendaklah kita senantiasa sadar akan realitas hidup ini.
Demua realitas pahit pedih ini, justru mau menggambarkan, bahwa sesungguhnya, betapa rapuhnya manusia yang lemah dan terbatas itu.
Maka, hendaklah kita senantiasa sadar dan membangun ‘sikap mawas diri serta berwaspada’ di dalam arena pergaulan ini.
“Tumbuhkan sikap: setia, rendah hati, dan ampunan!”
Itulah setangkai tongkat sadarmu!
Kediri, 23 Juli 2025

