“Disiplin mengendalikan amarah agar kita tidak dipermalukan diri sendiri.” -Mas Redjo
…
Sadar diri, karena lemah, saya mohon rahmat Tuhan agar dikurniai semangat rendah hati. Tujuannya agar saya mampu mengendalikan amarah.
Saya sadar-sesadarnya, emosi yang meledak-ledak (amarah) itu sulit dikendalikan dibandingkan dengan nafsu duniawi yang lain. Bahkan dampak negatifnya juga luar biasa, baik bagi diri sendiri dan orang lain.
Jika banyak orang mengendalikan amarah itu dengan menarik nafas panjang, saya mentertawakan ego sendiri.
“Cemen! Begitu saja marah, dasar mental labil!”
“Orang yang hobi marah-marah itu makin jelek dan cepat tua!”
Tertawa dan meledek diri sendiri itu adalah resep jitu untuk menetralisir amarah. Tujuannya agar kita tidak mudah tersinggung, tersakiti, terhina, terdholimi, dan seterusnya.
Coba perhatikan wajah teman itu, apakah dia serius melecehkan, membuli, atau ingin merendahkan kita?
Jangan sensian, atau tepatnya tidak ada guna kita tersinggung dan marah, karena hal sepele atau sekadar bercanda.
Mudah marah itu menunjukkan kita ini lemah, mental labil, cemen, dan kekanak-kanakan. Banyak teman lalu membatasi diri, takut, dan malas berhubungan, atau bahkan mereka menjauhi kita. Siapa yang rugi?
Tidak hanya itu, ketika mudah marah berarti kita dikalahkan oleh ego dan dipermalukan diri sendiri. Banyak juga di antara kita lalu stres, benci, bahkan mendendam pada teman.
Sebaliknya dengan mentertawakan diri sendiri, kita lebih sabar, tabah, dan rendah hati.
Dengan membalas bercandaan teman, kita mengklik balik mereka agar mati kutu.
Kenak, lo!
…
Mas Redjo

