Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kadang-kadang orang-orang pun rela untuk berbohong, hanya
demi sebuah keutuhan.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Ibarat Membeli Kucing dalam Karung
Pernahkah Anda mendengar sebuah lontaran berupa sebuah perumpanaan, “Ibarat membeli kucing di dalam karung?” Yang artinya orang terpaksa melakukan suatu hal yang demikian berisiko, hanya demi menjaga sebuah keutuhan hidup.
Artinya, tindakan ini terpaksa dilakukan, yang tentu akan berdampak merugikan, karena kita tidak mengetahui dengan pasti, bagaimana isi dan kualitasnya.
Lewat perumpamaan ini, kepada kita pun diamanatkan, agar perlu ‘berhati-hati dalam bertransaksi atau memilih suatu pilihan.’ Mengapa demikian? Ya, karena bisa jadi, bahwa orang pilihan kita itu ternyata tidak sesuai dengan harapan kita.
Mari Cermati Ilustrasi ini
Ketua
Seorang anak berusia empat tahun dipilih jadi ketua dari sekelompok anak yang lebih besar di sebuah lingkungan perumahan.
Salah seorang Bapak dari anak-anak itu bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian koq memilih anak yang sekecil ini?”
“Begini, Pak,” anak itu menjelaskan, “Dia tidak bisa jadi sekretaris, karena belum bisa menulis. Kami juga tidak bisa memilih dia sebagai bendahara, karena dia belum bisa menghitung. Dia pun terlalu kecil untuk mendorong orang ke luar, sehingga kami tidak bisa memilihnya sebagai koordinator keamanan. Tentu, dia akan merasa sangat sedih, kalau tidak dipilih sama sekali. Itulah sebabnya, mengapa kami akhirnya memilih dia jadi ketua.”
Sebuah Seni dalam Hidup
Bukankah hidup itu kadang-kadang juga merupakan sebuah seni ibarat bermain dadu? Sekalipun orang-orang tahu, mengapa dan ke mana ujung dari permainan dadu ini. Apakah hal itu sebagai sebuah strategi berupa akal-akalan demi sebuah kenyamanan hidup, ataukah demi suatu tujuan lain? Jika kita sungguh dewasa, maka biasanya, orang-orang akan saling memahaminya demi sebuah tujuan yang telah dipahami bersama.
Terlepas dari, bahwa apakah tindakan konyol itu adalah sebentuk sikap kong kali kong demi sebuah keterpaduan atau demi sebuah tujuan lainnya.
Apa Sikap Anda, jika Hal ini sungguh Terjadi?
Manusia mapan yang dewasa dalam bertindak dan bersikap, serta juga dewasa dalam berpikir, tentu akan menghindari cara-cara bermufakat model ini. Mengapa? Bukankah dinamika dalam tubuh organisasi ini, justru diawali dengan sebuah strategi ‘main dadu’ demi sebuah kenyamanan semu?
Bukankah strategi sebuah organisasi yang diawali dengan sikap akal-akalan dan sikap kong kali kong, justru akan menghancurkan organisasi ini dari dalam? Sungguh, kelak eksistensi dari organisasi ini ibarat ‘buah semangka,’ yang ‘tampak hijau dari luar, namun isi di dalamnya, justru sangat merah serta berdarah-darah.’
Hukum Kehidupan
Pemimpin yang berkualitas hanya akan lahir dari sebuah masyarakat yang juga berkualitas, bukan? Nah, bagaimana mungkin, bahwa dari sebuah masyarakat yang amburadul akan lahir seorang pemimpin yang berkualitas? Tidak! Mustahil hal itu akan terjadi.
Jika ingin mewujudkan pencarian figur seorang pemimpin yang agung dan berkualitas, maka pertama-tama, ciptakan sebuah masyarakat yang berkualitas pula!
Masyarakat yang berkualitas, justru hanya lahir dari setiap individu yang berkualitas pula.
Bukankah dari sosok pribadi yang tidak berkualitas, justru akan tercipta sebuah sistem berorganisasi yang juga tidak berkualitas, bukan?
Kediri, 22 Juli 2025

