“Senantiasa berpikir jernih agar hati kita tidak diracuni pikiran buruk dan dilukai ego sendiri.” -Mas Redjo
…
Ketika kiriman barang ramai, tiba-tiba saya dikabari orang bengkel, bahwa mobil harus turun mesin.
Saya kaget, karena mobil itu baru setahun lalu turun mesin. Secepat itukah mobil harus turun mesin lagi? Apakah orang bengkel resmi yang menangani itu kurang profesional?
Saya jadi terbawa emosi. Bersyukur, saya segera diingatkan anak yang cepat tanggap menyewa mobil pengganti untuk mengirim barang pesanan agar pelanggan tidak kecewa. Sedang mobilnya sendiri untuk mengirim ke pelanggan di seputaran C.
Turun mesin, dan turun mesin lagi. Apakah kita pernah mengalami, dikecewakan teknisi atau tukang abal-abal?
Dikibuli teknisi, tukang, atau oleh siapa pun yang merugikan materi itu menyakiti hati memang. Bahkan banyak di antara kita yang trauma dan hilang kepercayaan. Apalagi, jika hal itu dilakukan teman sendiri. Pertanyaannya, karena dikibuli kita lalu berhak mencap dan menyama-ratakan orang lain bakal berbuat curang pada kita juga?
Alangkah naifnya, jika kita berpikir sesempit itu. Lalu menutup diri, dan curiga kepada yang lain.
Alangkah baik, jika kita bersikap hati-hati. “Teliti sebelum membeli.” Caranya adalah, mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk referensi agar kita tidak dikibuli lagi. Karena pribadi yang curigaan itu hidupnya tidak tentram dan tersiksa.
Alanglah bijak, jika kita mau belajar dan mengambil hikmah peristiwa itu agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Untuk selalu ‘eling lan waspada’ agar kita tidak celaka.
Kita harus sadar-sesadarnya dan memahami, bahwa:
Sesungguhnya orang yang senang berbuat curang itu menutup rezeki sendiri.
Sepandai-pandainya orang menipu orang lain, ternyata ia gagal menipu dirinya sendiri.
Dengan memaafkan pelaku dan ikhlas, kita menyembuhkan kecewa dan luka sendiri.
Ikhlas itu berkualitas!
…
Mas Redjo

