“Tanda terbesar dari kasih Allah itu bukan sesuatu yang kita minta, tapi Seseorang yang kita ikuti.”
Di hadapan hati yang keras dan pikiran yang penuh keraguan, Yesus berdiri teguh, bukan karena Ia kurang belas kasih, melainkan karena Ia menolak tunduk pada tuntutan manusia yang penuh kesombongan. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat datang meminta tanda, bukan untuk percaya, melainkan untuk mencobai dan menghakimi.
Namun, dalam belas kasih-Nya, Yesus tetap memberi mereka tanda Yunus, sebuah nubuat tentang “Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan-Nya.”
Tuhan tidak pernah kekurangan tanda. Dia membelah Laut Teberau bagi bangsa Israel saat jalan sudah tertutup. Dia membebaskan umat-Nya bukan hanya dengan kuasa, melainkan dengan kasih yang menuntun mereka ke luar dari ketakutan menuju kebebasan.
Hari ini Dia mengingatkan kami kembali: yang lebih besar dari Musa, Yunus, dan Salomo telah hadir: Yesus Kristus, Putra-Nya.
Tuhan, saat kami, seperti Firaun atau para ahli Taurat, mengeraskan hati, meski telah melihat kebaikan-Mu. Ampunilah kami saat menuntut tanda baru, padahal keajaiban yang Kau lakukan sudah teramat banyak, Engkau menyembuhkan luka yang kami pikir tidak akan pulih, menenangkan badai yang kami pikir akan menenggelamkan kami, dan menyertai kami di padang gurun yang kami anggap mematikan.
Ajari kami untuk tidak memperlakukan iman seperti tawar-menawar atau ruang sidang, di mana kami meminta-Mu terus-menerus membuktikan diri. Sebaliknya, seperti orang Niniwe, biarlah kami merendahkan diri dan kembali kepada-Mu. Seperti Musa di tepi laut, biarlah kami belajar untuk tetap berdiri teguh, percaya, dan melangkah dalam ketaatan—meski belum tahu, bagaimana air akan terbelah.
Ajari kami untuk bertobat, bukan hanya dari dosa, tapi juga dari kesombongan dan kebergantungan pada diri sendiri. Tolong kami untuk berpuasa dari hal-hal duniawi yang melemahkan rasa lapar kami akan Engkau. Jadikan tangan-Mu yang perkasa sebagai satu-satunya kebanggaan kami, dan lengan-Mu yang terentang sebagai keselamatan sejati kami.
Tuhan Yesus, Engkaulah Tanda yang kami butuhkan. Engkaulah nyanyian kemenangan, ‘Batu Karang’ keselamatan kami. Engkaulah segalanya. Hari ini, kami tidak akan meminta-Mu tampil, tapi kami percaya, mengikuti, dan menyembah-Mu.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

