“Teruslah berpikir positif dan berprasangka baik agar anugerah Tuhan ditambahkan.” -Mas Redjo
…
Ketika getol berbisnis dan cukup mapan, otomatis aneka keinginan saya terpenuhi. Tapi anehnya, saya merasa ada yang kurang dalam hidup ini. Hati ini serasa hambar…
Padahal hubungan saya dengan istri dan anak terjalin dekat dan akrab. Begitu pula sesrawungan saya dengan tetangga maupun umat Gereja.
Lama merenung dan berdoa untuk mencari jawaban dari kegelisahan saya. Ternyata salah satu faktor yang mempengaruhi, adalah saya belum siap estafet penyerahan usaha itu kepada anak. Meski saya mendampingi dan membimbing mereka.
Saya kurang mempercayai anak, karena mereka tidak fokus, situasi ekonomi melesu, dan persaingan dagang yang makin kompetitif. Bahkan, ketika omset anjlog, saya ingin turun ke lapangan lagi untuk silaturahmi ke pelanggan lama dan menjaring pelanggan baru. Saya tidak mau usaha yang dibangun dengan susah payah itu makin merosot.
Di sisi lain, saya dihadapkan pada keinginan untuk fokus membangun web untuk berbagi hal-hal baik dan positif sebagai sumbangsih dalam maknai hidup ini. Saya terombang ambing antara idealisme diri yang menguat dan usaha yang dihantui kekurangpercayaan pada anak.
Bersyukur, saya sungguh bersyukur. Di suatu malam saat berhening diri, bermeditasi, dan memohon berkat Tuhan untuk mengatasi rasa takut dan kekurang-yakinan pada anak, saya diingatkan oleh Tuhan. Bahwa ketakutan itu mencuri sukacita dan kedamaian di hati ini. Kita lemah iman, karena kurang percaya pada penyelenggaraan-Nya.
Saya disadarkan oleh jamahan kasih-Nya: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh 14: 27).
Tuhan teramat baik, bahkan hasil pencapaian saya bagai mimpi. Semangat saya langsung bangkit, menggelora, dan optimis menatap masa depan. Saya percaya dan mengimani-Nya, jika Tuhan berkehendak, maka tidak ada yang mustahil.
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6: 33-34).
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

