“Tidak jadi pengekor, tapi kita harus jadi pembaharu agar produk yang dijual laris manis tanjung kimpul.” -Mas Redjo
Sanggahan dan alasan itu hanya milik orang yang tidak percaya diri dan (maaf) pemalas. Pejuang yang tangguh itu harus jadi pembaharu, pioner! Karena prinsip hidupnya itu untuk menjawab tantangan agar jadi nyata.
Saya agak pangling, ketika seorang lelaki muda datang ke toko siang itu. Ia turun dari mobil sport. Wajahnya berseri, dan tubuhnya padat berisi. Beda sekali dengan 5 tahunan lalu saat ia membawa gerobak motor untuk menjajakan roti warungan.
“Eh, Bos datang pasti bawa rezeki, nih,” gurau saya terus bergelak. Saya menjabat tangannya erat dan akrab. Lalu mengajaknya masuk ke ruangan saya.
Ternyata pilihan AB untuk pulang ke kampung istrinya itu adalah tepat. Di kampung istrinya belum banyak persaingan dalam usaha roti.
Saya respek pada AB, karena mau mendengar saran orang lain, dan mewujudkannya.
Ketika di C, AB termotivasi kata-kata saya, “Tidak selamanya kita bekerja pada orang lain, tapi harus mempunyai usaha sendiri.”
Dari semula AB menjajakan roti sehari sekali, lalu jadi dua kali. Pagi dari jam 6, lalu berangkat lagi jam 3. Tarikan pagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan jam 3 untuk ditabung agar kelak untuk dijadikan modal usaha.
Ternyata, saya tidak menyangka AB cepat sekali belajar, beradaptasi, dan kreatif. Usaha roti lesu itu tidak sekadar dipengaruhi ekonomi yang melemah dan krisis pembeli, tapi pasaran yang jenuh, bosan dengan produk yang itu-itu saja. Sehingga kita dituntut untuk terus berkreasi dan berinovasi. Membuat bentuk tampilan, warna, dan rasa yang beda dari produk umumnya untuk menjawab tuntutan pasar.
Tidak hanya itu, mertua AB yang produsen kerupuk mentah itu juga mengikuti sarannya untuk membuat variasi bentuk, warna, dan rasa agar pasar tidak jenuh (bosan).
Kebanyakan warna kerupuk itu putih, lalu dibuatkan warna hijau rasa daun pandan, dan seterusnya. Ternyata amat diminati konsumen. Sehingga mertua AB kuwalahan memenuhi permintaan pasar.
“Syukurlah. Ikut senang,” kata saya sambil menepuk bahunya. “Selain kabar baik itu, apalagi?”
“Maukah Pakdhe suatu hari nanti, saya udang ke T untuk berbagi ilmu dan pengalaman?”
“Kan ada kamu. Kalau mentraktir makan itu cocok…” gurau saya.
“Boleh, kita mau makan di mana?”
Kami bergelak tawa.
Mas Redjo

