Oleh: Fr. M. Christoforus, NHK
“Sebuah pemahaman jauh lebih dasyat, jika dibanding dengan logika manusia semata.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Belajar Memahami dan Menghargai Keunikan
Di hari ketiga dalam sebuah aktivitas MPLS (Juli 2025), di sebuah SMPK Swasta di kota Kediri, Jawa Timur saya menemukan ‘sebuah kejanggalan’ dari sikap seorang siswa baru. Mengapa? Di saat sang penyaji materi yang bertemakan hal ‘kepemimpinan’, menginformasikan kepada kedua puluh lima orang siswa baru, bahwa Lembar Kerja Siswa (LKS), yang telah dibagikan itu akan digunakan untuk menuliskan sinopsis dari seluruh proses di saat materi itu disajikan. Hal itu juga telah disepakati oleh semua peserta.
Konyolnya, ketika saya justru menyaksikan seorang siswa yang tidak mematuhinya. Ia ternyata menuliskan sinopsis materinya di selembar kertas yang lain. Ketika saya menyampaikan kepadanya, bahwa silakan sinopsismu dituliskan di LKS dan tidak di kertas yang lain. Namun siswa itu tidak menggubrisnya.
Ketika untuk kedua kalinya saya mendekatinya dan sekali lagi, menyampaikan hal yang sama, maka apa jawaban siswa baru itu? “Biarlah, tidak apa-apa, saya mau menuliskan di kertas yang lain saja,” sahutnya. Saya pun terdiam sambil berpikir keras. Ternyata, hingga akhir pelajaran, siswa baru itu tidak memedulikannya.
Guru Sejati perlu Belajar Menemukan Rahasia Keunikan Siswa
Setelah agak lama merenungkan kejadian ini, saya menyimpulkan, bahwa saya telah memenangkan kejadian ini lewat sikap memahami (membiarkan) keunikan siswa ini. Selanjutnya saya sempat menitipkan sebuah pesan kecil kepada Wakasek yang kebetulan mendampingi kegiatan ini. “Pak, saya mohon dampingi siswa unik ini dalam proses belajar selanjutnya di sekolah ini.” Sang Wakasek itu menyetujuinya ajakan saya.
Inilah sebuah temuan yang terbilang unik, karena biasanya para siswa baru akan selalu mudah untuk patuh pada sebuah instruksi yang diberikan. Lewat kejadian ini, pihak sekolah perlu cermat untuk terus mendekati siswa ini atas sikap uniknya ini.
Semoga Anda dan juga saya agar tidak segara memberikan ‘cap keras kepala alias bandel’ kepada siswa unik ini. Justru di balik sikap uniknya ini, pihak sekolah lewat para guru, perlu terus mendeteksi keunikan ini.
Guru BK dan Wali kelasnya pun perlu turut menangani dengan memroses secara edukatif serta psikologis hal keunikan ini. Maka, sejumlah strategis konkret perlu segera dilakukan, Antara lain:
- Mengajak dan berdialog dengan pihak orangtua siswa itu. Bahwa apakah saat di SD fenomena unik itu telah diperlihatkan juga oleh siswa itu?
- Mengajak dan berdialog juga dengan pihak sekolah dasar atau Wali kelas enam di sekolah dasar itu. Apakah fenomena unik ini juga terjadi selama di sekolah dasar itu?
- Juga mengajak psikolog atau psikiater serta pembimbing rohani agar turut memikirkan serta mencari solusinya.
Agar Tidak Mendiamkan Keadaan ini
Sebuah lembaga edukasi yang bermartabat dan berkualitas, seharusnya peduli pada fenomena psikologis serupa ini. Perlu diketahui, bahwa pihak sekolah, orangtua, dan para guru agar tidak mendiamkan fenomena unik ini. Justru itulah pentingnya tugas besar kemanusiaan dari sebuah lembaga sekolah.
Pemahaman lebih Dasyat daripada Logika
Dalam konteks munculnya keunikan seperti ini, hendaknya pihak sekolah bersama orangtua bersepakat, bahwa dibutuhkan sebuah pemahaman bersama dalam menangani peristiwa keunikan ini. Jangan sekali-kali mereka saling melempar masalah dan bahkan saling menuding. Juga hendaknya dihindari untuk menggunakan logika semata yang sering kali justru berujung tidak menyelesaikan masalah.
Semua pihak bersikap sehati sejiwa untuk turut serta mencari cara dan solusi terbaik bersama demi menata kepribadian siswa di lembaga sekolah kita.
Ingat Spirit Dasar
“Homo Humanus”
Itulah pentingnya kehadiran dari sebuah lembaga edukasi yang berlandaskan seluruh proses pendidikannya lewat prinsip dan esensi dasar ‘homo humanus’, proses pemanusiaan manusia.
Dalam konteks ini, sungguh dibutuhkan jiwa dan spiritualitas kemanusiaan sejati!
Bukankah pendidikan adalah proses perjumpaan antar hati?
Kediri, 18 Juli 2025

