“Seorang Ibu dapat merawat dan membesarkan 3 anaknya, tapi belum tentu 3 anak itu dapat merawat Ibunya di masa tua.” -Mas Redjo
Selama dua hari ini saya disodori pemandangan yang pedih miris dan memporak-porandakan jiwa ini. Bahkan realita itu seperti potret buram hidup saya di masa tua.
Pemandangan pedih miris yang pertama adalah, ketika saya makan malam dengan anak. Di depan meja saya, duduk tiga orang Ibu kakak beradik makan bersama Ayahnya, yang berumur 70an tahun. Seorang dari mereka menyuapi makan Ayahnya dengan kurang sabar. Bahkan menyeka mulut yang belepotan itu dengan kasar, atau sesekali memukul paha Ayahnya.
Hari berikutnya, saya disodori video viral, di mana 4 anak kandung membuang Ibunya ke ‘griya lansia’. Bahkan, jika Ibunya meninggal dunia, mereka tidak perlu dikabari!
Apakah anak itu kehilangan nurani pada Ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya dengan kasih sayang? Bagaimana, jika kelak hal itu terjadi pada kita?
Saya tidak mau komentar, menilai, dan apalagi menghakimi mereka. Tapi hal itu saya gunakan sebagai sarana refleksi diri.
Memanusiawikan Lansia
Saya salut sesalutnya pada negara Jepang yang memanusiawikan lansia dengan mempekerjakan mereka, sehingga berumur panjang. Motivasi dan semangat hidup mereka juga luar biasa, wajib ditiru, dan diterapkan pada diri sendiri.
Belajar dari peristiwa pedih miris orangtua yang kurang diperhatikan, atau bahkan ditelantarkan anak, apa pun alasannya, saya semangat memotivasi diri agar kelak tidak merepoti dan bergantung pada anak-anak.
Dengan semangat hidup mandiri, saya merencanakan masa depan ini dengan segala konsekuensi dan mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Tanpa mencari atau menyalahkan orang lain, tapi sebagai nilai pertanggungan-jawaban kita pada Tuhan yang anugerahi hidup ini.
Dengan mengantisipasi suatu hal atau kejadian buruk, saya dituntut mudah beradaptasi. Sehingga hal buruk itu dapat cepat dibenahi dan perbaiki untuk jadi makin baik.
Dengan memberikan yang terbaik dari diri ini, saya mengelola dan memaknai hidup ikhlas. Hidup ini untuk memberi tanpa sekat, batas, dan tidak harap kembali.
Ikhlas hati itu tanpa isi. Tuhan memberkati.
Mas Redjo

