“Tidak sekadar melempar batu sembunyi tangan untuk mencari aman. Tapi banyak orang yang cuci tangan untuk lepas dari tanggung jawab agar selamat.” -Mas Redjo
…
Tiba-tiba pikiran saya terarahkan pada kisah Pontius Pilatus yang cuci tangan, karena ingin lepas dari tanggung jawab dan tidak mau disalahkan.
Bagai alur film yang saling terkait dan melengkapi, saya ingat pula kisah seorang politisi negeri Milik Dewek yang tidak merasa bersalah, bahkan mengelak, meski di atas mejanya itu tergeletak cek senilai puluhan milyar yang belum dicairkan. Konyolnya, meja itu yang disalahkan.
Begitu pula dengan nasib bawahan yang dikorbankan demi melindungi nama baik dan keselamatan atasan dengan jaminan hidup keluarganya, dan bahkan kecipratan uang hasil korupsi seusai dibui.
Kini hal serupa itu disodorkan pada saya. Akankah saya diam-diam melakukan hal itu, mengorbankan bawahan untuk dijadikan kambing hitam?
Pengalaman, saya pernah memberi uang kaget pada istri, ketika saya kecipratan rezeki dari atasan. Apa kata istri? Ia menanyakan asal usulnya, karena takut saya terlibat korupsi, dan berurusan dengan aparat hukum. Keluarga juga yang repot dan jadi korban.
“Jika disyukuri, hasil kita itu lebih dari cukup dibandingkan dengan yang lain, Mas,” istri mengingatkan. Ketegasan istri itu menampar nurani saya. Meskipun gaji istri lebih besar, tapi ia hormat dan menghargai saya.
Sekarang Bos mengancam saya untuk menyetujui anggaran proyek. Jika menolak, saya bakal dimutasi dan karier tamat!
Karena tidak mau disalahkan dan ketimbang menahan beban berat itu, saya lalu berterus terang pada istri.
Ternyata istri tidak marah, ngomel, atau takut, sebaliknya ia tersenyum. Menurutnya, itu konsekuensi sikap jujur seorang ASN yang harus siap didepak, jika tidak bisa diajak pat-gulipat, dan menyenangkan Bos.
“Mengapa Mas harus takut suatu hal yang belum tentu terjadi? Kita dapat belajar dari Nabi Ayub, orang saleh yang jujur dan takut akan Tuhan,” istri saya mengingatkan, sambil menggenggam tanganku.
Saya menggangguk. Perlahan rasa khawatir dan ketakutan itu mencair. Peneguhan istri itu membuat saya mantap dan makin optimis untuk menyongsong masa depan yang berlimpah sukacita.
…
Mas Redjo

