“Jika disuruh memilih antara jempol dan jentik, saya langsung memilih kedua-duanya. Alasan saya, karena mereka saling melengkapi sebagai jari-jari tangan.” -Mas Redjo
Ketika diacungi jempol, dipuji, dan dibilang hebat itu tidak serta merta membuat saya jadi besar kepala, sombong, dan lupa diri.
Begitu pula saat jentik diacungkan ke atas atau diunjukkan seujung kuku jentik, saya tidak tersinggung dan sakit hati, meski diremehkan atau direndahkan.
Bagi saya pribadi diacungi jempol atau jentik itu sarana untuk refleksi diri. Diacungi jempol pujian itu tidak membuat saya jadi sombong, tapi agar saya rendah hati. Sedang dijentiki itu tidak membuat saya jadi berkecil hati dan minder, tapi saya harus miliki semangat juang tinggi dan tangguh agar tahan uji dalam menghadapi tantangan dan persaingan untuk jadi pemenangnya.
Tidak hanya itu, bagi saya jentik itu juga simbol perdamaian. Kita tentu ingat, ketika kecil kita mengaitkan jari jentik (kelingking) dengan teman untuk baikan (damai), berjanji, dan seterusnya.
Sejatinya dengan jentik (kelingking) itu juga mengajar saya agar berani, berdamai dengan diri sendiri, tapi juga memberi maaf dengan tulus hati pada mereka yang bersalah.
Sejatinya dengan mensinergikan jempol dan jentik, saya diajar untuk berani mengapresiasi pada pribadi-pribadi yang baik, jujur, dan rendah hati.
Jempol dan jentik, paduan orang-orang hebat yang murah hati, hidup untuk saling mengasihi.
Mas Redjo

