Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Saat berada di ruang publik, bersikaplah seolah-olah Anda sedang menerima tamu penting. Saat berurusan dengan rakyat, bersikaplah seolah-olah Anda sedang melakukan sebuah pengorbanan besar. Jangan lakukan pada orang lain apa yang Anda sendiri tidak suka.”
(Konfusius)
Luka-luka bangsa berseliweran di sekitar kita. Kemiskinan adalah luka bangsa yang tak pernah disembuhkan. Alih-alih menyembuhkan luka bangsa, para pemimpinnya justru berpesta korupsi di tengah penderitaan lebih dari 194 juta rakyat miskin, sesuai laporan Bank Dunia pada Juni 2025. Demikian isi paragraf pertama tulisan Sukidi, sang Pemikir Kebhinekaan lewat sebuah Analisis Politik pada kolom Umum harian Kompas, Kamis, (10/7/2025) berjudul “Gembala yang Terluka.”
Sebuah Persembahan untuk Kardinal Suharyo
Ada pun tulisan ini sebagai sebentuk persembahan kepada Kardinal yang merayakan peringatan kelahirannya yang ke- 75. Bagi penulis, Suharyo hadir dalam pelayanan kemanusiaan sebagai seorang Gembala (Kardinal) yang turut terluka. Ia terluka tidak hanya karena luka-luka bangsa, namun juga pada luka-luka kemanusiaan, dari luka kemiskinan, pengangguran, hingga luka perdagangan manusia, tulis Sukidi.
Menurut Sukidi, Kardinal Suharyo ternyata tetap teguh dalam mewartakan pengharapan dan menempatkan Yesus sebagai pusat bela rasa yang nyaris sempurna dengan Gereja sebagai ‘komunitas pengharapan’.
Gembala yang Terluka
Kata Pastor, yang bermakna ‘Gembala’ (Latin), bahwa Gereja Katolik universal sejak lebih dari 2000 tahun lalu telah memosisikan peran agung bagi para Pastor dan para Uskup sebagai Gembala yang menggembalakan umat Katolik di suatu wilayah gerejawi tertentu.
Anda dan saya dapat membayangkan, bagaimana kondisi wajah Gereja dalam wilayah geografis tertentu itu. Di sisi lain, bagaimana peran para Pastor (Romo) di benua Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika sebagai wajah Gereja universal. Bahwa kondisi riil wajah dari masyarakat (umat) di sebuah bangsa pun turut mewarnai dan bahkan juga jadi wajah riil dari para Pastor di wilayah gerejawi itu.
Wajah Gereja yang Berpengharapan
Semoga wajah Gereja semesta secara mondial tetap teguh dan berani untuk menerima serta menyatu dengan wajah penderitaan umat yang digembalakannya. Dalam konteks ini, semoga Gereja tidak lari dan menghindar dari sebuah kepahitan hidup yang dialami para umat yang digembalakannya.
Bukankah wajah Gereja Yesus Kristus adalah sebuah wajah penderitaan, seperti yang Yesus Kristus alami? Wajah Gereja yang terluka dan turut menderita bersama Yesus Kristus, Sang Guru Agung mereka.
Inilah sekeping wajah Gembala Gereja yang turut tercabik dan terluka, karena ulah jahat kita.
Semoga dalam kondisi yang tercabik dan terluka parah pun, Gereja senantiasa tetap menampilkan sekeping wajah yang ‘berpengharapan’.
…
Kediri, 11 Juli 2025

